After Corporate's Cubicle (1.) Hancur
Warn. Harsh Word, mature🔞, cigarettes, alcohol, bar nightclub
Husen memasuki nightclub yang belum terlalu ramai itu. Dia menitipkan barangnya ke penjaga usai membayar biaya masuk. Hati Husen ingin menolak namun sebagiannya merasa ini adalah pelampiasan atas kesialan hari ini.
Dia mendekati seorang bartender, memesan satu gelas bir dengan kadar alkohol yang lumayan tinggi.
Sambil duduk mengamati club yang mulai ramai, Husen mengambil sesuatu di sakunya. Dia membuka kotak itu menemukan satu batang rokok tersisa. Mendengus lemah, Husen menghidupkan rokok tersebut menyesap perlahan dengan mata yang memicing mencari ketenangan.
“Permisi, saya duduk di sini ya.”
Seorang pria dengan kemeja lengkap duduk di sampingnya dihiraukan oleh Husen. Dia membiarkan orang tersebut duduk dan berbincang dengan wanita di sebelahnya.
“Ini, Tuan.” Bartender memberikan pesanan Husen. Dengan cepat Husen meneguk minuman surgawi itu, matanya tertutup menikmati kenikmatan setiap tetes minuman tersebut.
“Ah~” lenguh Husen saat merasa mencapai titik kepuasannya. Rokok dan alkohol adalah paduan sempurna dikala kehancuran hidupnya. Terimakasih para penemu dua zat adiktif itu, batin Husen.
Pria di sampingnya itu usai berbincang dengan wanita yang sudah pergi, dia mengamati Husen yang mulai sempoyongan meskipun dia masih meminta segelas bir alkohol tinggi.
“Hm, mas. Kayaknya kamu gak perlu kasih dia lagi deh, lihat udah tinggi begitu...” Ujar pria itu sedikit simpati kepada bartender yang telah memberikan segelas bir kembali.
Bartender melihat pria itu mengangguk paham, lalu dia menyiapkan lagi pesanan pria itu minta.
“Mas~ satu gelas lagi—hik please...” Pinta Husen kembali. Namun, seseorang menyanggah kalimatnya.
“Mas, kayaknya kamu harus berhenti sebelum benar-benar kehilangan kesadaran.”
Husen mendengar itu merasa kesal, siapa pria ini melarang-larang dirinya.
“Diem, anjing! Lo siapa bajingan ngelarang gw? TAU APA LO TENTANG HIDUP GW NGENTODD!”
Pria itu terkaget apalagi saat Husen turun dari kursi dan berjalan mendekatinya. Karena tidak bisa tahan, tubuh Husen terhuyung ke depan yang untungnya langsung ditangkap pria surai pirang di hadapannya.
“Mas, kamu beneran mabuk parah. Mending udah—”
Kalimat pria itu terhenti saat Husen tiba-tiba mengecup bibirnya. Kecupan yang bermula menjadi sebuah lumatan apalagi saat lidah Husen memaksa masuk.
“Akh!” Pekik Husen saat merasa lidahnya digigit.
Husen menatap ganas pria itu. Entah kenapa pria ini benar-benar tampan sekali dan Husen sangat iri.
“Lo kok bisa ganteng sih? Lo pasti orang kaya, kan? Gw bisa kayak lo juga gak... Gw butuh uang, gw mau hiks... Kenapa gak sabar dia gw lagi berjuang tapi malah di PHK sama perusahaan babi yang gak tau gw rela lembur... Gw ga punya tempat tinggal hiks...”
Husen menangis dalam racauannya, menumpahkan itu semua kepada orang asing yang baginya cukup sempurna.
Tangan Husen mengelus wajah tirus pria itu, mulutnya terbuka meraup oksigen.
PLAKKK
Tiba-tiba Husen menampar pipi pria itu.
“Babi! Lo mau cium gw ya?! Anjing, lo kira gw lonte cowok apa gimana hah? Semua orang kaya emang kaya anjing—hmphhh!”
Racauan tidak jelas itu terbungkam saat bibirnya dilumat oleh si pria asing. Husen tak kuasa, kekuatan ditubuhnya lenyap. Dia hanya bisa mengalungkan tangannya di leher milik pria yang makin mengobservasi mulutnya.
“Ah~” desah Husen tertahan.
Husen mendesis saat hormonnya naik tapi pria itu malah berhenti. Pria itu melepas Husen lalu akan beranjang pergi tapi tiba-tiba tertahan saat Husen memeluk tubuh tegap pria itu.
“Fuck me, please...”
Pria itu membolakan matanya saking kagetnya mendengar kalimat haram itu. Dia membalikkan badan, melihat wajah Husen yang memeraha dengan peluh yang membuatnya makin terlihat seperti penggoda.