After Corporate's Cubicle

(2.) Bertemu

Warn. Harsh Word, mature🔞, cigarettes, alcohol, bar nightclub

Marshall berjalan masuk ke sebuah Bar Nightclub itu mengekor dua wanita yang berbincang.

“Tapi Qai kaget mbak, Mas Marshall mau diajak ke Bar begini? Biasanya juga nyewa tempat sendiri buat mabok!” Ujar Qaila, adik dari Qori menertawakan sepupunya itu.

Qori hanya tertawa kecil sambil mereka duduk di meja pantry melihat beberapa persiapan night show di sana.

“Butuh refreshing dari kemaren anaknya kan dijodoh-jodohin mulu. Ye, gak?”

Marshall hanya menghela nafas, “Up to you. Capek juga mas dipaksa buru nikah.”

Qaila menaruh atensi kepada yang tertua, “Ya lagian mas sih gonta ganti cewe cepat banget, apa nggak aunty langsung jodohin biar aman juga.”

“Tau, emang. Harusnya lu terima aja, kalau lu nikah kan otomatis mudah naik jabatan lagian udah mapan.”

“Kalau gw nikah cepet nanti pada patah hati massal, secara gw ganteng gini.”

“Anjing najong juga lu, dipuji dikit langsung kek di awan.” Sarkas Qori yang dihadiahi jitakan dari pria itu.

Semakin malam pengunjung mulai memenuhi ruangan, Qaila mulai tertarik memandangi ruang dansa di tengah. Dia menepuk pundak kedua kakaknya.

“Mas, mbak! Kesana, yok. Temenin Qaiii!!!!” Pinta Qaila setengah memohon.

Qori mengangguk mengiyakan lain hal dengan Marshall yang menoleh ke pemuda di sampingnya.

“Mas, ikut gak???”

Marshall tersentak lalu memberi gestur menolak.

“Mas gak dulu, kalian kesana aja. Hati-hati, ya!”

Kedua wanita itu pun beralih meninggalkan Marshall yang menyesap rootbeer miliknya.

Tiba-tiba Marshall memanggil bartender untuk mendekat.

“Hm, mas. Kayaknya kamu gak perlu kasih dia lagi deh, lihat udah tinggi begitu...” Ujarnya sambil menunjuk pemuda yang sudah terlalu mabuk sambil menyesap satu bir dengan kadar tinggi yang baru saja ia dapatkan.

Bartender mengangguk paham. Dia pun memberikan satu gelas wine kepada Marshall. Saat akan meminumya, pendengaran Marshall menangkap suara yang membuatnya berhenti lalu menoleh ke arah suara.

“Mas~ satu gelas lagi—hik please...” Pinta pemuda itu.

Tak enak hati bagi Marshall melihat pemuda yang tampaknya kalut itu untuk lanjut menghilangkan kesadaran dirinya. Dia mendekat dan menggenggam tangan pemuda yang menatap kesal padanya.

“Mas, kayaknya kamu harus berhenti sebelum benar-benar kehilangan kesadaran.” Nasihat Marshall dengan wajah simpati.

Namun, respon yang diterima kurang baik. Setelah mendengar itu ia merasa kesal, siapa pria ini dihadapannya melarang-larang dirinya -batin pemuda itu.

“Diem, anjing! Lo siapa bajingan ngelarang gw? TAU APA LO TENTANG HIDUP GW NGENTODD!”

Marshall kaget minta ampun saat tiba-tiba dimaki. Pemuda itu pun turun dari kursi dan berjalan mendekatinya. Karena tidak bisa menahan kestabilan, tubuh pemuda tersebut terhuyung ke depan yang untungnya langsung sigap ditangkap Marshall.

“Mas, kamu beneran mabuk parah. Mending udah—”

Chu~

Bibir Marshall tiba-tiba dikecup terlebih pemuda itu mencoba masuk ke mulutnya. Marshall dengan iseng menggigit lidah itu untuk menghentikan.

“Akh!” Pekiknya.

Marshall mendapatkan tatapan ganas.

“Lo kok bisa ganteng sih? Lo pasti orang kaya, kan? Gw bisa kayak lo juga gak... Gw butuh uang, gw mau hiks... Kenapa gak sabar dia gw lagi berjuang tapi malah di PHK sama perusahaan babi yang gak tau gw rela lembur... Gw ga punya tempat tinggal hiks...”

Pemuda itu meracau. Ternyata benar dugaan Marshall jika pemuda itu sedang kalut. Dia mengelus punggungnya mencoba menenangkan.

Tiba-tiba tangan pemuda surai hitam itu menjalar, mengelus wajah tirus Marshall mulutnya terbuka meraup oksigen.

PLAKKK

Pipinya baru saja ditampar.

“Babi! Lo mau cium gw ya?! Anjing, lo kira gw lonte cowok apa gimana hah? Semua orang kaya emang kaya anjing—hmphhh!”

Racauan pemuda itu berhenti saat Marshall membungkamnya dengan ciuman. Sampai-sampai pemuda itu mengalungkan tangannya ke leher Marshall.

Mereka mengabaikan yang terjadi dan bartender yang kena serangan fajar usai melihat itu.

“Ah~” desah pemuda itu. Wajahnya memerah, badannya memanas.

Marshall sedikit tersadar dengan apa yang dia lakukan. Dia melepaskan pelukannya lalu menjauh.

Sebuah tangan melingkar di pinggangnya saat Marshall akan bangkit mengambil jasnya.

“Fuck me, please...”

Kalimat yang cukup membuat Marshall ketar-ketir terlebih tampilan needy pemuda berkulit agak kecoklatan itu membuatnya terlihat seksi(?)