mahae fams • Next my job, right? (8. End)
Haechan mendatangi kamar anak gadisnya. Hari ini Ningning tidak masuk sekolah karena suhu badannya naik dan sedikit flu. Sebagai sang papa, Haechan merawat anaknya telaten sembari mengasuh bayi dan anak ketiganya.
Suaminya saat ini masih di luar kota mengurus beberapa legalasi dan mencari pihak yang mau kerjasama, begitu pula dengan si sulung yang mengambil bimbel privat karena tawaran sang kakek sehingga dia harus tinggal di sana.
Haechan duduk di ranjang anak gadisnya itu, mengelus surai merah yany dimiliki. Seketika Ningning terbangun, “Papa,” Panggil lirih, lalu tanpa sadar air matanya jatuh.
Ningning menyambut pelukan sang papa usia mengambil posisi duduk. Dia tak kuasa menahan tangis. Hari-hari belakangan saat sekolah dia lewati tidak terlalu baik karena oknum yang tidak menyukainya menjadi finalis lomba menyanyi antar nasional, mengetahui kehidupan pribadinya terutama hubungan sang papa dan daddy.
“Cup cup, anak manis papa. Kakak berhenti dulu ya nangsnya? Mata kakak capek, kan?”
Haechan mengendurkan pelukannya, menatap Ningning yang dibalas anggukan.
Tersenyum kecil, Haechan melanjutkan ucapannya, “Mau cerita?”
Ningning melirik sang papa, “P-papa jangan ambil hati yah-hikss.. Kakak gak mau papa sedih..”
Haechan mengangguk dengan tangannya mengelus surai Ningning. Ningning mulai menceritakan, awal mula dia lolos mewakili sekolah untuk ajang lomba menyanyi, lalu ada teman yang tidak suka karena merasa seleksi yang Ningning lalui tidak adil. Orang itu pun mulai mencari tau dan memanfaatkan orangtuanya untuk menghina bahkan mengolok-olok Ningning.
Ningning sendiri mengatakan, dia tidak bisa membalas perlakuan itu karena dia tidak mau bila orangtuanya datang ke sekolah bukan karena prestasi bukan masalah. Apalagi sohib baiknya sekarang sedang berjuang untuk ujian tes masuk universitas dan ajang olimpiade provinsi, sehingga hanya Ningning yang berdiri sendiri di sekolah.
Haechan sendiri paham, anaknya berjuang mati-matian hingga tertidur saat latihan vokal di studio milik iparnya.
“Papa, jangan bilang daddy ya?” pinta Ningning lirih. Dia takut, apabila sang daddy bertindak makan dunia bisa saja hancur bila anak-anaknya bersedih.
Haechan hanya diam sambil membawa tubuh putrinya tidur.
Mana mungkin Haechan hanya diam.
•
“Kakak...”
“Iya?”
“Anak gadisku dijahatin disaat dia gak melakukan kejahatan. Kakak tolong, aku butuh bantuan kakak... sebagai ayahnya.”
“Apapun bakal aku lakukan untuk kebahagiaan anak-anakku, dek. Just wait, okay?”
•
“Abang,”
Menoleh, “Ya, dad. Pelaku adalah 'anu' anak dari pejabat 'xxx' yang terkenal dengan kemewahan dan problematikanya.”
“Nice, son. Next my job, right?”