mahae fams • Qtime (5.)

“Bang,”

“Iya, Jen?”

Jeno menunjukan layar ponselnya kepada Mark.

“Liat bini lu, nih.”

Mark membaca tweetan itu dengan seksama. Menghela nafas, “Haechan makin sensitif kalo gue tinggal pergi gini,  padahal bentar.”

“Wkwkwk, aelah bang. Sabar aja, laki emang gitu di mata bini apalagi kalo hamil muda gini. Lu mending, lah Nana—”

“Apanih bawa-bawa nama gue?” Kejut lelaki yang lebih muda dengan surai pirang membawa nampan yang berisi dua kopi hitam.

Jeno cengengesan melihat suaminya itu, “Nggak, beb.”

Nana— Jaemin memutar bola matanya jemgah, lalu menatap sang kakak ipar.

“Minum dulu bang sebelum pulang. Si Haechan lagi anti bau kopi kan di rumah?”

Mark mengangguk, sambil meminum kopi tersebut.

“Kasian banget abang gue, wkwk.”

“Na, Jen, gue pamit dulu. Titip Shuyu ya, kalau anaknya bandel jejelin aja semangka. Pamit ya, bini gue makin kangen nih, misi!”

“Hati-hati, bang!”

Pamit Mark meninggalkan rumah sang adik.

•••

Mark membuka pintu kamarnya, “Sayang?” Matanya tertuju pada seseorang yang berada dibalik selimut.

“Adek...” Panggil Mark agak pelan, memastikan suaminya masih terjaga atau tidak. Mark merasakan basah disekitar wajah sang suami.

'Adek nangis?' Batin Mark bertanya.

“Maafin kakak sayang, akhir-akhir ini sibuk sama kerjaan jadi kita jarang ada waktu berdua.” Gumam Mark pelan, mengusap wajah Haechan.

Menghela nafas, Mark melepas bajunya hendak mengganti dengan kaos rumahan.

“Kakak...” Suara itu menghentikan tangannya mencari kaos miliknya.

“Adek?”

“Kesini,” pinta Haechan dengan suara lirih. Mark bersegera mendekat dengan keadaan telanjang dada.

Haechan menghambur ke dalam pelukan prianya itu.

“Adek rindu kakak,” Mark mengelus pelan punggung ringkih itu.

Semenjak hamil, Haechan agak sensitif dan cenderung tak bisa menahan emosi yang ia luapkan di depan suaminya.

“Iya sayang, kakak juga sayang adek. Maafin ya akhir-akhir ini kita jarang berdua.” Pinta Mark yang dibalas anggukan oleh Haechan yang masih berada di pelukan sang suami.

Mereka melepaskan pelukan sejenak, Haechan menggigit bibirnya.

Mark yang paham bertanya sembari tangannya menyisihkan rambut halus Haechan ke belakang telinga.

“Kenapa, hm?”

“Adek mau 'kakak'.” Jawab Haechan.

Pria yang lebih tua membolakan matanya, agak kaget mendengar kata itu. Tapi Mark, tetap adalah bapak-bapak aplikasi Wh*tsApp, iya nyebelin.

“Heee tumben banget adek mau nih,” balas Mark dengan ekspresi menyebalkan.

Wajah Haechan memerah, “Yaudah kalau gak mau adek mau lanjut tidur!”

“Eh, eh adek!”

Haechan yang ditahan tidur pun menatap suaminya tajam, “Hm?”

Mark mengelus pipi gembul itu, “Inget gak kata dokter kemaren? Hamil muda rentan banget kalau kita begitu. Kakak takut nanti dedek malah nendang titit kakak di dalem.”

Haechan tak kuasa untuk menyemburkan tawa, suaminya ini makin menjadi bapak-bapak jokesnya bertambah dan makin pintar sekali membuat candaan untuk membalikkan moodnya.

“Haha iya dehhh~ tapi adek mau dimanja sama kakak pokoknya.”

“Wait,” Mark beranjak dari ranjang, mengambil gitarnya yang sengaja diletakkan di ujung sebelah lemari

“Kakak mau—”

“Busking. Adek suka kan? Jaman kita pacaran suka begini kalo ketemu, haha.”

Itu kan! Liat wajah Haechan sekarang makin memerah, dia malu sekali dengan suami ini yang sangat paham tentangnya.

“Kakak mah!”

“Sambil live instagram ya dek?”

“Heh! Kakak pake baju dulu dong, auratnya kakak buat adek doang itu! Enak aja dijadiin konsumsi publik.”

Duh, suaminya ini bisa dimakan gak sih? Haechan terlihat seperti mochi stoberi kalau lagi ngamuk begini.

“Haha, nggak dek. Nanti screennya hitam aja kok, aman aurat kakak buat adek aja.”

Haechan sudah keburu kesal, “Terserah deh, adek gak mau ikut nyanyi tapi!”

“Iya deh, tapi kalau mau ikut nanti gapapa soalnya lagunya yang adek suka semua.”