mahae fams • Qtime (7. End)
⚠️ Warning! bit 17+ ⚠️
Haechan menatap suaminya itu, lantunan nada disertai lirik begitu membuai. Terlebih lagi, pria itu menyanyikan salah satu lagu yang cukup Haechan sukai.
Your hand fits in mine like it's made just for me But bear this mind, it was meant to be And I'm joining up the dots with the freckles on your cheeks And it all makes sense to me
Tangan Haechan sangat pas saat berada di genggaman Mark, pria itu sangat suka mencium punggung tangan Haechan yang bagai sudah ditakdirkan untuknya. Wajah pria yang lebih muda itu memerah, membuat kontras antara tahilalatnya yang membentuk simbol bintang.
I know you've never loved The crinkles by your eyes when you smile You've never loved your stomach or your thighs The dimples in your back at the bottom of your spine But I'll love them endlessly
Jujur saja semenjak dikehamilan anak pertamanya, Haechan mengalami shock karena perut dan pahanya yang melebar. Terlebih lagi saat melahirkan, pria itu mengalami baby blues yang membuat tubuhnya tak terawat akibat tekanan yang dia rasakan. Kerutan di mata Haechan makin terlihat, terbentuk jelas apabila ia mulai tersenyum lebar. Jujur Haechan tidak menyukai semua hal itu, tapi Mark, suaminya tercinta meyakinkan Haechan bahwa hal itu normal dan baik-baik saja.
I won't let these little things slip out of my mouth But if I do, it's you Oh, it's you, they add up to I'm in love with you And all these little things
Mungkin Mark terlihat jarang memuji suami manisnya itu seperti pasangan lain, apalagi saat mereka di depan publik. Tapi jika itu terjadi, mungkin Mark tersihir oleh keistimewaan Haechan dan Mark selalu suka hal-hal kecil yang ada pada pribadi itu.
You can't go to bed without a cup of tea And maybe that's the reason that you talk in your sleep And all those conversations are the secrets that I keep Though it makes no sense to me
Kebiasaan Haechan sebelum tidur : minum secangkir teh. Seringkali jika dia melupakan kebiasaan itu dia akan merengek dalam igauannya ataupun berbicara tidak jelas. Mark selalu tertawa gemas sambil mengatakan hal itu pada Haechan, dan itu membuat hati Mark menghangat.
I know you never loved the sound of your voice on tape You never want to know how much you weight You still have to squeeze into your jeans But you're perfect to me
Haechan sangat malu jika dia bernyanyi direkam atau dia akan mendiamkan oknum itu selama seminggu. Tidak pernah ingin tau berapa berat badannya terlebih saat sesudah melahirkan, agak sulit bagi Haechan untuk memperbaiki berat badan sesuai idealnya karena kesibukan untuk rumah, anak dan suaminya. Kadang dia masih berharap mencoba pakaiannya saat kuliah dulu muat, tapi tetap saja mengecewakan. Mark yang melihat wajah murung itu hanya menenangkan suaminya dan mengatakan dirinya selalu sempurna mengenakan apapun.
I won't let these little things slip out of my mouth But if it's true, it's you It's you, they add up to I'm in love with you And all these little things
You'll never love yourself half as much as I love you And you'll never treat yourself right darling, but I want you to If I let you know, I'm here for you Maybe you'll love yourself like I love you, oh
Ya, Haechan sulit mencintai dirinya sepenuh hati bagai Mark mencintai suaminya itu. Kadang Haechan jarang memperlakukan dirinya baik terlebih dengan kesibukannya apalagi saat hamil begini Haechan tetap harus siap siaga untuk anak-anak mereka. Terkadang Mark meminta suaminya itu untuk memperlakukan dirinya baik dan tidak selalu membiarkan dirinya membereskan pekerjaan melelahkan itu setiap saat. Mark ada. Anak-anak mereka pun ada untuk membantu sang ayah.
And I've just let these little things slip out of my mouth 'Cause it's you, oh, it's you It's you, they add up to And I'm in love with you And all these little things
Sekarang biarkan Mark untuk berkata lantang dengan syair yang dia nyanyikan dihadapan suaminya yang menatapnya dengan air mata yang tiba-tiba seiring lagu bercucuran.
Haechan, kamu indah. Kamu luarbiasa, kamu hebat, kamu kuat, meskipun terkadang kamu rapuh dan terlihat putus asa tapi dirimu istimewa dimataku, Mark, suamimu.
Jangan merasa kamu kurang menarik karena menua, karena aku mencintaimu sepenuh jiwa dan raga. Aku memang jatuh pada parasmu di awal kita berjumpa, tapi dirimu yang sesungguhnya adalah yang aku inginkan. Biar kata dunia kamu buruk, tapi hatimu yang kusuka. Tetaplah menjadi Haechan-ku, ketidaksempurnaan dirimu adalah hal yang sempurna.
Haechan, suamiku... Aku mencintaimu.
Mark lanjut menggenjreng gitarnya dengan nada sembarang menutupi sesegukan tangis suaminya yang akhirnya keluar. Haechan bangkit dari tempat tidur perlahan lalu menuju ke toilet untuk menenangkan diri dan menghapus air matanya.
Beberapa menit kemudian, Haechan kembali ke kamar mereka.
“Kak, udahan?” tanya pria manis itu.
Mark menoleh, tersenyum kecil sambil meletakkan gitarnya di sebelah ranjang. Mark melebarkan tangannya, mengisyaratkan suami kecilnya untuk masuk ke dalam pelukan. Haechan pun berjalan menghamburkan pelukannya.
Ahh, hormon kehamilan makin membuatnya menjadi emosional sekarang.
Mark memgendurkan pelukan mereka menatap wajah mungil suaminya.
“Adek,”
“I-iya kak,”
“Kamu jangan sedih karena merasa kurang cantik ya, sayang? Semua yang ketidaksempurnaan adek adalah hal yang sempurna di mata kakak. Adek tetap menjadi adek yang kakak kenal dari dulu hingga sekarang. Kamu yang ceria, cerewet dan peduli. Kakak suka adek yang riang, tapi nggak masalah semisal adek sedih tapi ingat pesan kakak, jangan pernah sedih karena adek gak menarik. Adek hanya dan satu-satunya yang kakak cinta, Lee Haechan.”
“K-kakak hiks—hmph”
Mark membawa suaminya dalam ciuman hangat, dia menikmati waktu ini yang terasa amat sangat lama dia kenang.
“Adek, kakak 'boleh'?” izin Mark kepada Haechan saat tangan pria itu akan beralih membuka kancing bajunya.
“U-ukh? I-iya, pelan-pelan ya, kak.” jawab Haechan dengan wajahnya yang memerah.
“Cantik.” Puji Mark, sebelum lanjut mengulum bibir madu itu.
Pertukaran saliva terjadi. Desahan pria yang lebih muda terdengar, menikmati permainan suaminya. Haechan membiarkan tiap inchi tubuhnya dibelai, memenuhi hasratnya yang terpendam.
“K-kakakkk—ahh~” Desah Haechan yang merupakan pertanda bahwa permainan telah usai.
Mark membaringkan tubuhnya di sebelah sang suami, menyelimuti tubuh mereka.
Haechan yang kelemahan menampilkan senyumnya, mengelus wajah Mark yang terasa bulu-bulu halus yang baru dicukur.
“Daddy udah ketemu sama dedek duluan~” Ujar Haechan ringkih sebelum kehilangan kesadaran karena keletihan.
Pria itu pun mengusap pucuk kepala Haechan, mengecup keningnya lalu memeluk tubuh sang suami.