mahae fams • Trust Me (6.)

Akhirnya Mark menampilkan senyum tipis usai kembali membaca balasan suaminya. Mark memasukkan ponselnya ke saku, lalu bersandar pada kursi bus dan mengeratkan jaketnya karena bus malem sangat dingin ditambah lagi hujan diluar sana.

Terpaksa, pria yang hampir masuk usia paruh baya itu menaiki bus demi menghemat biaya bahan bakar terlebih lagi mobilnya sedang bermasalah di mesin terpaksa dia tinggalkan di garasi rumah saudaranya. Sebenarnya bisa saja Mark diberi pinjaman oleh sang ayah, tapi pria itu cukup gengsi lantasan proposal ajuan pencairan dana cabangnya masih ditolak. Terlebih lagi Mark yang pulang mendadak akan menimbulkan pertanyaan kepada sang ayah.

“Good Hell,” umpat Mark sambil memejamkan matanya mencoba istirahat sejenak dari beban pikiran yang dialami.

Bus malam melaju cepat hingga berada di perbatasan kota, Mark terbangun sejenak lalu mengecek jam di ponselnya yang menunjukkan dini hari.

Setelah sampai di terminal kotanya, Mark turun dari bus, memesan taksi online ke rumahnya. Dia merasa gugup menemui suami dan anak-anaknya.

Dia pun sampai, membuka pagar rumah dan pintu rumahnya.

“Daddy pulang,” Gumamnya agak pelan takut membangun anak kecilnya.

Terlihat di sopa, Chenle yang tidur dalam posisi duduk dengan sang adik, Ningning yang tertidur menggenggam selimut di bersandar di pundak sang abang.

Merasa kehadiran orang lain, Chenle terbangun dari tidurnya. Di hadapannya sang ayah berdiri.

“Daddy?”

“Bangun, Son. Sana lanjut tidur di kamar, bawa kakak juga.”

Ningning disampingnya ikut terbangun karena pembicaraan singkat itu.

“Hnhh, daddy???”

Mark mengusap pucuk kepala anak gadis tertuanya, “Lanjut tidur di kamar, kak.”

Mereka berdua menuruti perintah sang ayah lalu menuju ke kamar masing-masing meninggalkan Mark yang menghela nafas untuk masuk ke kamarnya pula.

Perlahan Mark buka pintunya, tak ingin membangunkan suaminya yang tertidur lelap. Mark menatap wajah sendu Haechan yang terlihat ada bekas air mata mengalir.

“Kakak...” Gumam Haechan membuka mata begitu menyadarkan diri akan atensi sang suami.

“Adek,” balas Mark. Dia ikut menempatkan tubuhnya diranjang. Mereka pun berhadapan satu sama lain.

Haechan tak kuasa menahan tangis, dia memeluk tubuh besar suaminya, menepis kemarahannya. Rindu, kesal, dan marah bagai terlarut dalam pelukan itu. Mark merasakan tubuh Haechan bergetar karena tangisnya yang cukup memilukan bagi Mark.

“K-kakak hiks—hiks..”

Mark memposisikan tubuh Haechan agar tidak terlalu menindih perut besarnya. Menenangkan tubuh suaminya yang rapuh itu.

Hingga Haechan lumayan tenang, Mark mulai angkat bicara.

“Sayang,”

“Iya, kak?”

“Kakak gak maksa, adek gak usah lahiran normal ya?”

Haechan mendengus, “Biaya operasi dan pemulihan mahal kak.”

“Iya, gapapa sayang. Demi kamu dan adek selamat keduanya. Kakak rela banting tulang sakit-sakitan cari uang demi kamu dan anak kita.”

Haechan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Mark, menggenggam kuat lengan sang suami.

“Kenapa sih kak, Tuhan kasih kita cobaan kesulitan sekaligus? Aku gak kuat hiks...”

Mark mengusap punggung Haechan, “Ssst! Bukan kesulitan, ini ujian dek. Kita saling berbohong menutupi keadaan masinh-masing, Tuhan gak mau itu. Dia ingin kita jujur satu sama lain, karena kakak butuh adek begitupula sebaliknya. Tuhan gak mau adek menyimpan sakit sendiri, adek harus berbagi sama kakak.”

Perlahan wajah Haechan menjauh, kepalanya naik menatap Mark. Jemarinya mengerangai wajah tampan sang suami masih tetap awet muda meski sedikit kurang terawat.

“Kalau begitu kakak juga harus berbagi senang dan sedih kakak ya sama adek? Kita saling butuh kak.” Lanjut Haechan sambil matanya kebawah perut, sesekali mengelus perut buncitnya.

Mark yang mendapati itu agak turun, dia mencium perut yang didalamnya terdapat buah hati.

“Tentu, maafin daddy ya, sayang.”

“Maafin papa juga, daddy.”

Kini terduanya tersenyum lebar karena suasana itu.