<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>gitayuta</title>
    <link>https://gitayuta.writeas.com/</link>
    <description>author 1000 purnama</description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 07:19:48 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>After Corporate&#39;s Cubicle</title>
      <link>https://gitayuta.writeas.com/after-corporates-cubicle-q6xw?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[After Corporate&#39;s Cubicle &#xA;&#xA;(2.) Bertemu &#xA;&#xA;Warn. Harsh Word, mature🔞, cigarettes, alcohol, bar nightclub&#xA;&#xA;Marshall berjalan masuk ke sebuah Bar Nightclub itu mengekor dua wanita yang berbincang.&#xA;&#xA;&#34;Tapi Qai kaget mbak, Mas Marshall mau diajak ke Bar begini? Biasanya juga nyewa tempat sendiri buat mabok!&#34; Ujar Qaila, adik dari Qori menertawakan sepupunya itu.&#xA;&#xA;Qori hanya tertawa kecil sambil mereka duduk di meja pantry melihat beberapa persiapan night show di sana.&#xA;&#xA;&#34;Butuh refreshing dari kemaren anaknya kan dijodoh-jodohin mulu. Ye, gak?&#34;&#xA;&#xA;Marshall hanya menghela nafas, &#34;Up to you. Capek juga mas dipaksa buru nikah.&#34;&#xA;&#xA;Qaila menaruh atensi kepada yang tertua, &#34;Ya lagian mas sih gonta ganti cewe cepat banget, apa nggak aunty langsung jodohin biar aman juga.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tau, emang. Harusnya lu terima aja, kalau lu nikah kan otomatis mudah naik jabatan lagian udah mapan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalau gw nikah cepet nanti pada patah hati massal, secara gw ganteng gini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Anjing najong juga lu, dipuji dikit langsung kek di awan.&#34; Sarkas Qori yang dihadiahi jitakan dari pria itu.&#xA;&#xA;Semakin malam pengunjung mulai memenuhi ruangan, Qaila mulai tertarik memandangi ruang dansa di tengah. Dia menepuk pundak kedua kakaknya.&#xA;&#xA;&#34;Mas, mbak! Kesana, yok. Temenin Qaiii!!!!&#34; Pinta Qaila setengah memohon.&#xA;&#xA;Qori mengangguk mengiyakan lain hal dengan Marshall yang menoleh ke pemuda di sampingnya.&#xA;&#xA;&#34;Mas, ikut gak???&#34; &#xA;&#xA;Marshall tersentak lalu memberi gestur menolak.&#xA;&#xA;&#34;Mas gak dulu, kalian kesana aja. Hati-hati, ya!&#34;&#xA;&#xA;Kedua wanita itu pun beralih meninggalkan Marshall yang menyesap rootbeer miliknya. &#xA;&#xA;Tiba-tiba Marshall memanggil bartender untuk mendekat.&#xA;&#xA;&#34;Hm, mas. Kayaknya kamu gak perlu kasih dia lagi deh, lihat udah tinggi begitu...&#34; Ujarnya sambil menunjuk pemuda yang sudah terlalu mabuk sambil menyesap satu bir dengan kadar tinggi yang baru saja ia dapatkan.&#xA;&#xA;Bartender mengangguk paham. Dia pun memberikan satu gelas wine kepada Marshall. Saat akan meminumya, pendengaran Marshall menangkap suara yang membuatnya berhenti lalu menoleh ke arah suara.&#xA;&#xA;&#34;Mas~ satu gelas lagi—hik please...&#34; Pinta pemuda itu.&#xA;&#xA;Tak enak hati bagi Marshall melihat pemuda yang tampaknya kalut itu untuk lanjut menghilangkan kesadaran dirinya. Dia mendekat dan menggenggam tangan pemuda yang menatap kesal padanya.&#xA; &#xA;&#34;Mas, kayaknya kamu harus berhenti sebelum benar-benar kehilangan kesadaran.&#34; Nasihat Marshall dengan wajah simpati.&#xA;&#xA;Namun, respon yang diterima kurang baik. Setelah mendengar itu ia merasa kesal, siapa pria ini dihadapannya melarang-larang dirinya -batin pemuda itu.&#xA;&#xA;&#34;Diem, anjing! Lo siapa bajingan ngelarang gw? TAU APA LO TENTANG HIDUP GW NGENTODD!&#34;&#xA;&#xA;Marshall kaget minta ampun saat tiba-tiba dimaki. Pemuda itu pun turun dari kursi dan berjalan mendekatinya. Karena tidak bisa menahan kestabilan, tubuh pemuda tersebut terhuyung ke depan yang untungnya langsung sigap ditangkap Marshall.&#xA;&#xA;&#34;Mas, kamu beneran mabuk parah. Mending udah—&#34;&#xA;&#xA;Chu~&#xA;&#xA;Bibir Marshall tiba-tiba dikecup terlebih pemuda itu mencoba masuk ke mulutnya. Marshall dengan iseng menggigit lidah itu untuk menghentikan.&#xA;&#xA;&#34;Akh!&#34; Pekiknya.&#xA;&#xA;Marshall mendapatkan tatapan ganas.&#xA;&#xA;&#34;Lo kok bisa ganteng sih? Lo pasti orang kaya, kan? Gw bisa kayak lo juga gak... Gw butuh uang, gw mau hiks... Kenapa gak sabar dia gw lagi berjuang tapi malah di PHK sama perusahaan babi yang gak tau gw rela lembur... Gw ga punya tempat tinggal hiks...&#34;&#xA;&#xA;Pemuda itu meracau. Ternyata benar dugaan Marshall jika pemuda itu sedang kalut. Dia mengelus punggungnya mencoba menenangkan.&#xA;&#xA;Tiba-tiba tangan pemuda surai hitam itu menjalar, mengelus wajah tirus Marshall mulutnya terbuka meraup oksigen.&#xA;&#xA;PLAKKK&#xA;&#xA;Pipinya baru saja ditampar.&#xA;&#xA;&#34;Babi! Lo mau cium gw ya?! Anjing, lo kira gw lonte cowok apa gimana hah? Semua orang kaya emang kaya anjing—hmphhh!&#34;&#xA;&#xA;Racauan pemuda itu berhenti saat Marshall membungkamnya dengan ciuman. Sampai-sampai pemuda itu mengalungkan tangannya ke leher Marshall.&#xA;&#xA;Mereka mengabaikan yang terjadi dan bartender yang kena serangan fajar usai melihat itu.&#xA;&#xA;&#34;Ah~&#34; desah pemuda itu. Wajahnya memerah, badannya memanas. &#xA;&#xA;Marshall sedikit tersadar dengan apa yang dia lakukan. Dia melepaskan pelukannya lalu menjauh.&#xA;&#xA;Sebuah tangan melingkar di pinggangnya saat Marshall akan bangkit mengambil jasnya.&#xA;&#xA;&#34;Fuck me, please...&#34;&#xA;&#xA;Kalimat yang cukup membuat Marshall ketar-ketir terlebih tampilan needy pemuda berkulit agak kecoklatan itu membuatnya terlihat seksi(?)&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>After Corporate&#39;s Cubicle</p>

<p>(2.) Bertemu</p>

<p>Warn. Harsh Word, mature🔞, cigarettes, alcohol, bar nightclub</p>

<p>Marshall berjalan masuk ke sebuah Bar Nightclub itu mengekor dua wanita yang berbincang.</p>

<p>“Tapi Qai kaget mbak, Mas Marshall mau diajak ke Bar begini? Biasanya juga nyewa tempat sendiri buat mabok!” Ujar Qaila, adik dari Qori menertawakan sepupunya itu.</p>

<p>Qori hanya tertawa kecil sambil mereka duduk di meja pantry melihat beberapa persiapan night show di sana.</p>

<p>“Butuh refreshing dari kemaren anaknya kan dijodoh-jodohin mulu. Ye, gak?”</p>

<p>Marshall hanya menghela nafas, “Up to you. Capek juga mas dipaksa buru nikah.”</p>

<p>Qaila menaruh atensi kepada yang tertua, “Ya lagian mas sih gonta ganti cewe cepat banget, apa nggak aunty langsung jodohin biar aman juga.”</p>

<p>“Tau, emang. Harusnya lu terima aja, kalau lu nikah kan otomatis mudah naik jabatan lagian udah mapan.”</p>

<p>“Kalau gw nikah cepet nanti pada patah hati massal, secara gw ganteng gini.”</p>

<p>“Anjing najong juga lu, dipuji dikit langsung kek di awan.” Sarkas Qori yang dihadiahi jitakan dari pria itu.</p>

<p>Semakin malam pengunjung mulai memenuhi ruangan, Qaila mulai tertarik memandangi ruang dansa di tengah. Dia menepuk pundak kedua kakaknya.</p>

<p>“Mas, mbak! Kesana, yok. Temenin Qaiii!!!!” Pinta Qaila setengah memohon.</p>

<p>Qori mengangguk mengiyakan lain hal dengan Marshall yang menoleh ke pemuda di sampingnya.</p>

<p>“Mas, ikut gak???”</p>

<p>Marshall tersentak lalu memberi gestur menolak.</p>

<p>“Mas gak dulu, kalian kesana aja. Hati-hati, ya!”</p>

<p>Kedua wanita itu pun beralih meninggalkan Marshall yang menyesap rootbeer miliknya.</p>

<p>Tiba-tiba Marshall memanggil bartender untuk mendekat.</p>

<p>“Hm, mas. Kayaknya kamu gak perlu kasih dia lagi deh, lihat udah tinggi begitu...” Ujarnya sambil menunjuk pemuda yang sudah terlalu mabuk sambil menyesap satu bir dengan kadar tinggi yang baru saja ia dapatkan.</p>

<p>Bartender mengangguk paham. Dia pun memberikan satu gelas wine kepada Marshall. Saat akan meminumya, pendengaran Marshall menangkap suara yang membuatnya berhenti lalu menoleh ke arah suara.</p>

<p>“Mas~ satu gelas lagi—hik please...” Pinta pemuda itu.</p>

<p>Tak enak hati bagi Marshall melihat pemuda yang tampaknya kalut itu untuk lanjut menghilangkan kesadaran dirinya. Dia mendekat dan menggenggam tangan pemuda yang menatap kesal padanya.</p>

<p>“Mas, kayaknya kamu harus berhenti sebelum benar-benar kehilangan kesadaran.” Nasihat Marshall dengan wajah simpati.</p>

<p>Namun, respon yang diterima kurang baik. Setelah mendengar itu ia merasa kesal, siapa pria ini dihadapannya melarang-larang dirinya -batin pemuda itu.</p>

<p>“Diem, anjing! Lo siapa bajingan ngelarang gw? TAU APA LO TENTANG HIDUP GW NGENTODD!”</p>

<p>Marshall kaget minta ampun saat tiba-tiba dimaki. Pemuda itu pun turun dari kursi dan berjalan mendekatinya. Karena tidak bisa menahan kestabilan, tubuh pemuda tersebut terhuyung ke depan yang untungnya langsung sigap ditangkap Marshall.</p>

<p>“Mas, kamu beneran mabuk parah. Mending udah—”</p>

<p>Chu~</p>

<p>Bibir Marshall tiba-tiba dikecup terlebih pemuda itu mencoba masuk ke mulutnya. Marshall dengan iseng menggigit lidah itu untuk menghentikan.</p>

<p>“Akh!” Pekiknya.</p>

<p>Marshall mendapatkan tatapan ganas.</p>

<p>“Lo kok bisa ganteng sih? Lo pasti orang kaya, kan? Gw bisa kayak lo juga gak... Gw butuh uang, gw mau hiks... Kenapa gak sabar dia gw lagi berjuang tapi malah di PHK sama perusahaan babi yang gak tau gw rela lembur... Gw ga punya tempat tinggal hiks...”</p>

<p>Pemuda itu meracau. Ternyata benar dugaan Marshall jika pemuda itu sedang kalut. Dia mengelus punggungnya mencoba menenangkan.</p>

<p>Tiba-tiba tangan pemuda surai hitam itu menjalar, mengelus wajah tirus Marshall mulutnya terbuka meraup oksigen.</p>

<p>PLAKKK</p>

<p>Pipinya baru saja ditampar.</p>

<p>“Babi! Lo mau cium gw ya?! Anjing, lo kira gw lonte cowok apa gimana hah? Semua orang kaya emang kaya anjing—hmphhh!”</p>

<p>Racauan pemuda itu berhenti saat Marshall membungkamnya dengan ciuman. Sampai-sampai pemuda itu mengalungkan tangannya ke leher Marshall.</p>

<p>Mereka mengabaikan yang terjadi dan bartender yang kena serangan fajar usai melihat itu.</p>

<p>“Ah~” desah pemuda itu. Wajahnya memerah, badannya memanas.</p>

<p>Marshall sedikit tersadar dengan apa yang dia lakukan. Dia melepaskan pelukannya lalu menjauh.</p>

<p>Sebuah tangan melingkar di pinggangnya saat Marshall akan bangkit mengambil jasnya.</p>

<p>“Fuck me, please...”</p>

<p>Kalimat yang cukup membuat Marshall ketar-ketir terlebih tampilan needy pemuda berkulit agak kecoklatan itu membuatnya terlihat seksi(?)</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gitayuta.writeas.com/after-corporates-cubicle-q6xw</guid>
      <pubDate>Sun, 10 Mar 2024 13:25:07 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>After Corporate&#39;s Cubicle</title>
      <link>https://gitayuta.writeas.com/after-corporates-cubicle?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[After Corporate&#39;s Cubicle&#xA;(1.) Hancur&#xA;&#xA;Warn. Harsh Word, mature🔞, cigarettes, alcohol, bar nightclub &#xA;&#xA;Husen memasuki nightclub yang belum terlalu ramai itu. Dia menitipkan barangnya ke penjaga usai membayar biaya masuk. Hati Husen ingin menolak namun sebagiannya merasa ini adalah pelampiasan atas kesialan hari ini.&#xA;&#xA;Dia mendekati seorang bartender, memesan satu gelas bir dengan kadar alkohol yang lumayan tinggi.&#xA;&#xA;Sambil duduk mengamati club yang mulai ramai, Husen mengambil sesuatu di sakunya. Dia membuka kotak itu menemukan satu batang rokok tersisa. Mendengus lemah, Husen menghidupkan rokok tersebut menyesap perlahan dengan mata yang memicing mencari ketenangan.&#xA;&#xA;&#34;Permisi, saya duduk di sini ya.&#34; &#xA;&#xA;Seorang pria dengan kemeja lengkap duduk di sampingnya dihiraukan oleh Husen. Dia membiarkan orang tersebut duduk dan berbincang dengan wanita di sebelahnya.&#xA;&#xA;&#34;Ini, Tuan.&#34; Bartender memberikan pesanan Husen. Dengan cepat Husen meneguk minuman surgawi itu, matanya tertutup menikmati kenikmatan setiap tetes minuman tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Ah~&#34; lenguh Husen saat merasa mencapai titik kepuasannya. Rokok dan alkohol adalah paduan sempurna dikala kehancuran hidupnya. Terimakasih para penemu dua zat adiktif itu, batin Husen.&#xA;&#xA;Pria di sampingnya itu usai berbincang dengan wanita yang sudah pergi, dia mengamati Husen yang mulai sempoyongan meskipun dia masih meminta segelas bir alkohol tinggi.&#xA;&#xA;&#34;Hm, mas. Kayaknya kamu gak perlu kasih dia lagi deh, lihat udah tinggi begitu...&#34; Ujar pria itu sedikit simpati kepada bartender yang telah memberikan segelas bir kembali.&#xA;&#xA;Bartender melihat pria itu mengangguk paham, lalu dia menyiapkan lagi pesanan pria itu minta.&#xA;&#xA;&#34;Mas~ satu gelas lagi—hik please...&#34; Pinta Husen kembali. Namun, seseorang menyanggah kalimatnya.&#xA;&#xA;&#34;Mas, kayaknya kamu harus berhenti sebelum benar-benar kehilangan kesadaran.&#34;&#xA;&#xA;Husen mendengar itu merasa kesal, siapa pria ini melarang-larang dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Diem, anjing! Lo siapa bajingan ngelarang gw? TAU APA LO TENTANG HIDUP GW NGENTODD!&#34;&#xA;&#xA;Pria itu terkaget apalagi saat Husen turun dari kursi dan berjalan mendekatinya. Karena tidak bisa tahan, tubuh Husen terhuyung ke depan yang untungnya langsung ditangkap pria surai pirang di hadapannya.&#xA;&#xA;&#34;Mas, kamu beneran mabuk parah. Mending udah—&#34;&#xA;&#xA;Kalimat pria itu terhenti saat Husen tiba-tiba mengecup bibirnya. Kecupan yang bermula menjadi sebuah lumatan apalagi saat lidah Husen memaksa masuk.&#xA;&#xA;&#34;Akh!&#34; Pekik Husen saat merasa lidahnya digigit.&#xA;&#xA;Husen menatap ganas pria itu. Entah kenapa pria ini benar-benar tampan sekali dan Husen sangat iri.&#xA;&#xA;&#34;Lo kok bisa ganteng sih? Lo pasti orang kaya, kan? Gw bisa kayak lo juga gak... Gw butuh uang, gw mau hiks... Kenapa gak sabar dia gw lagi berjuang tapi malah di PHK sama perusahaan babi yang gak tau gw rela lembur... Gw ga punya tempat tinggal hiks...&#34;&#xA;&#xA;Husen menangis dalam racauannya, menumpahkan itu semua kepada orang asing yang baginya cukup sempurna.&#xA;&#xA;Tangan Husen mengelus wajah tirus pria itu, mulutnya terbuka meraup oksigen.&#xA;&#xA;PLAKKK&#xA;&#xA;Tiba-tiba Husen menampar pipi pria itu.&#xA;&#xA;&#34;Babi! Lo mau cium gw ya?! Anjing, lo kira gw lonte cowok apa gimana hah? Semua orang kaya emang kaya anjing—hmphhh!&#34;&#xA;&#xA;Racauan tidak jelas itu terbungkam saat bibirnya dilumat oleh si pria asing. Husen tak kuasa, kekuatan ditubuhnya lenyap. Dia hanya bisa mengalungkan tangannya di leher milik pria yang makin mengobservasi mulutnya.&#xA;&#xA;&#34;Ah~&#34; desah Husen tertahan.&#xA;&#xA;Husen mendesis saat hormonnya naik tapi pria itu malah berhenti. Pria itu melepas Husen lalu akan beranjang pergi tapi tiba-tiba tertahan saat Husen memeluk tubuh tegap pria itu.&#xA;&#xA;&#34;Fuck me, please...&#34;&#xA;&#xA;Pria itu membolakan matanya saking kagetnya mendengar kalimat haram itu. Dia membalikkan badan, melihat wajah Husen yang memeraha dengan peluh yang membuatnya makin terlihat seperti penggoda.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>After Corporate&#39;s Cubicle
(1.) Hancur</p>

<p>Warn. Harsh Word, mature🔞, cigarettes, alcohol, bar nightclub</p>

<p>Husen memasuki nightclub yang belum terlalu ramai itu. Dia menitipkan barangnya ke penjaga usai membayar biaya masuk. Hati Husen ingin menolak namun sebagiannya merasa ini adalah pelampiasan atas kesialan hari ini.</p>

<p>Dia mendekati seorang bartender, memesan satu gelas bir dengan kadar alkohol yang lumayan tinggi.</p>

<p>Sambil duduk mengamati club yang mulai ramai, Husen mengambil sesuatu di sakunya. Dia membuka kotak itu menemukan satu batang rokok tersisa. Mendengus lemah, Husen menghidupkan rokok tersebut menyesap perlahan dengan mata yang memicing mencari ketenangan.</p>

<p>“Permisi, saya duduk di sini ya.”</p>

<p>Seorang pria dengan kemeja lengkap duduk di sampingnya dihiraukan oleh Husen. Dia membiarkan orang tersebut duduk dan berbincang dengan wanita di sebelahnya.</p>

<p>“Ini, Tuan.” Bartender memberikan pesanan Husen. Dengan cepat Husen meneguk minuman surgawi itu, matanya tertutup menikmati kenikmatan setiap tetes minuman tersebut.</p>

<p>“Ah~” lenguh Husen saat merasa mencapai titik kepuasannya. Rokok dan alkohol adalah paduan sempurna dikala kehancuran hidupnya. Terimakasih para penemu dua zat adiktif itu, batin Husen.</p>

<p>Pria di sampingnya itu usai berbincang dengan wanita yang sudah pergi, dia mengamati Husen yang mulai sempoyongan meskipun dia masih meminta segelas bir alkohol tinggi.</p>

<p>“Hm, mas. Kayaknya kamu gak perlu kasih dia lagi deh, lihat udah tinggi begitu...” Ujar pria itu sedikit simpati kepada bartender yang telah memberikan segelas bir kembali.</p>

<p>Bartender melihat pria itu mengangguk paham, lalu dia menyiapkan lagi pesanan pria itu minta.</p>

<p>“Mas~ satu gelas lagi—hik please...” Pinta Husen kembali. Namun, seseorang menyanggah kalimatnya.</p>

<p>“Mas, kayaknya kamu harus berhenti sebelum benar-benar kehilangan kesadaran.”</p>

<p>Husen mendengar itu merasa kesal, siapa pria ini melarang-larang dirinya.</p>

<p>“Diem, anjing! Lo siapa bajingan ngelarang gw? TAU APA LO TENTANG HIDUP GW NGENTODD!”</p>

<p>Pria itu terkaget apalagi saat Husen turun dari kursi dan berjalan mendekatinya. Karena tidak bisa tahan, tubuh Husen terhuyung ke depan yang untungnya langsung ditangkap pria surai pirang di hadapannya.</p>

<p>“Mas, kamu beneran mabuk parah. Mending udah—”</p>

<p>Kalimat pria itu terhenti saat Husen tiba-tiba mengecup bibirnya. Kecupan yang bermula menjadi sebuah lumatan apalagi saat lidah Husen memaksa masuk.</p>

<p>“Akh!” Pekik Husen saat merasa lidahnya digigit.</p>

<p>Husen menatap ganas pria itu. Entah kenapa pria ini benar-benar tampan sekali dan Husen sangat iri.</p>

<p>“Lo kok bisa ganteng sih? Lo pasti orang kaya, kan? Gw bisa kayak lo juga gak... Gw butuh uang, gw mau hiks... Kenapa gak sabar dia gw lagi berjuang tapi malah di PHK sama perusahaan babi yang gak tau gw rela lembur... Gw ga punya tempat tinggal hiks...”</p>

<p>Husen menangis dalam racauannya, menumpahkan itu semua kepada orang asing yang baginya cukup sempurna.</p>

<p>Tangan Husen mengelus wajah tirus pria itu, mulutnya terbuka meraup oksigen.</p>

<p>PLAKKK</p>

<p>Tiba-tiba Husen menampar pipi pria itu.</p>

<p>“Babi! Lo mau cium gw ya?! Anjing, lo kira gw lonte cowok apa gimana hah? Semua orang kaya emang kaya anjing—hmphhh!”</p>

<p>Racauan tidak jelas itu terbungkam saat bibirnya dilumat oleh si pria asing. Husen tak kuasa, kekuatan ditubuhnya lenyap. Dia hanya bisa mengalungkan tangannya di leher milik pria yang makin mengobservasi mulutnya.</p>

<p>“Ah~” desah Husen tertahan.</p>

<p>Husen mendesis saat hormonnya naik tapi pria itu malah berhenti. Pria itu melepas Husen lalu akan beranjang pergi tapi tiba-tiba tertahan saat Husen memeluk tubuh tegap pria itu.</p>

<p>“Fuck me, please...”</p>

<p>Pria itu membolakan matanya saking kagetnya mendengar kalimat haram itu. Dia membalikkan badan, melihat wajah Husen yang memeraha dengan peluh yang membuatnya makin terlihat seperti penggoda.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gitayuta.writeas.com/after-corporates-cubicle</guid>
      <pubDate>Sat, 09 Mar 2024 05:07:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Spy x Mahaefams • Fever (1.)</title>
      <link>https://gitayuta.writeas.com/spy-x-mahaefams-fever-1?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Spy x Mahaefams • Fever (1.)&#xA;&#xA;Haechan terbangun bergegas ke kamar putri sambungnya begitu mendengar rengekan dari kamar itu.&#xA;&#xA;&#34;Diana?! Duh badan kamu kok panas sayang?&#34; Ucapnya panik sambil mengecek kondisi sang putri. Dia pun bangkit sambil membawa putrinya dalam pelukan kemudian berlari ke kamar Mark.&#xA;&#xA;&#34;Mark! Bangun Dian—&#34;&#xA;&#xA;Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat Mark yang hanya memakai celana tidur dan kaos kutang. Matanya tertuju ke sang putri yang sedang di gendong.&#xA;&#xA;&#34;Diana kita bawa ke dokter!&#34;&#xA;&#xA;Tangan Haechan menyegat pria itu, &#34;Mark, pakai bajumu dulu. Kebetulan tetangga kita di lantai 4 seorang dokter anak, aku ke tempatnya dulu kamu jagain Diana!&#34;&#xA;&#xA;Wajah Mark memerah malu, tapi dia segera membawa putrinya dalam pelukan dan mencoba menenangkan gadis kecil itu.&#xA;&#xA;Tak lama Haechan kembali dengan seorang pria paruh baya. Dia mengecek kondisi gadis kecil itu, sedangkan Mark menggenggam tangan Haechan mencoba menenangkan dirinya maupun pria itu.&#xA;&#xA;&#34;Mr. Forger, Dik Diana mengalami influenza biasa. Tolong jaga dengan baik suhu tubuh anak-anak di musim pancaroba sekarang ya. Untuk resep obatnya bisa diambil di tempat saya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terimakasih banyak, dokter.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ya, sama-sama.&#34;&#xA;&#xA;Haechan mengantarkan pria paruh baya itu sambil menebus obat. Saat di jalan pulang, pikirannya berkecamuk saat melihat Diana yang terbaring dengan badan panas. Hatinya sedih sekali melihat itu. Begitu sampai, matanya tertuju ke sang suami yang sedang memeluk putri mereka.&#xA;&#xA;&#34;Mark...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maaf aku gak bisa jagain Dian—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tidak masalah, Haechan. Kamu sudah cukup jadi sosok orangtua yang memenuhi kebutuhan Diana.&#34;&#xA;&#xA;Refleks, Haechan memeluk Mark yang sedang menggendong putri mereka. &#xA;&#xA;Kenapa Haechan bisa sangat lucu jika emosional begini? batin Mark.&#xA;&#xA;&#34;Aku masak sarapan untuk Diana dulu ya sebelum minum obatnya.&#34; Ujar Mark sambil memberikan gendongan Diana pada Haechan.&#xA;&#xA;Pikiran Haechan berkecambuk, menyalahkan dirinya yang dirasa tidak mampu mencegah demam ini.&#xA;&#xA;&#34;Papiii nggak salah...&#34; gumam Diana kecil lalu kembali tertidur.&#xA;&#xA;Senyum Haechan pun tertampang di wajahnya yang sedikit merona.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Spy x Mahaefams • Fever (1.)</p>

<p>Haechan terbangun bergegas ke kamar putri sambungnya begitu mendengar rengekan dari kamar itu.</p>

<p>“Diana?! Duh badan kamu kok panas sayang?” Ucapnya panik sambil mengecek kondisi sang putri. Dia pun bangkit sambil membawa putrinya dalam pelukan kemudian berlari ke kamar Mark.</p>

<p>“Mark! Bangun Dian—”</p>

<p>Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat Mark yang hanya memakai celana tidur dan kaos kutang. Matanya tertuju ke sang putri yang sedang di gendong.</p>

<p>“Diana kita bawa ke dokter!”</p>

<p>Tangan Haechan menyegat pria itu, “Mark, pakai bajumu dulu. Kebetulan tetangga kita di lantai 4 seorang dokter anak, aku ke tempatnya dulu kamu jagain Diana!”</p>

<p>Wajah Mark memerah malu, tapi dia segera membawa putrinya dalam pelukan dan mencoba menenangkan gadis kecil itu.</p>

<p>Tak lama Haechan kembali dengan seorang pria paruh baya. Dia mengecek kondisi gadis kecil itu, sedangkan Mark menggenggam tangan Haechan mencoba menenangkan dirinya maupun pria itu.</p>

<p>“Mr. Forger, Dik Diana mengalami influenza biasa. Tolong jaga dengan baik suhu tubuh anak-anak di musim pancaroba sekarang ya. Untuk resep obatnya bisa diambil di tempat saya.”</p>

<p>“Terimakasih banyak, dokter.”</p>

<p>“Ya, sama-sama.”</p>

<p>Haechan mengantarkan pria paruh baya itu sambil menebus obat. Saat di jalan pulang, pikirannya berkecamuk saat melihat Diana yang terbaring dengan badan panas. Hatinya sedih sekali melihat itu. Begitu sampai, matanya tertuju ke sang suami yang sedang memeluk putri mereka.</p>

<p>“Mark...”</p>

<p>“Iya?”</p>

<p>“Maaf aku gak bisa jagain Dian—”</p>

<p>“Tidak masalah, Haechan. Kamu sudah cukup jadi sosok orangtua yang memenuhi kebutuhan Diana.”</p>

<p>Refleks, Haechan memeluk Mark yang sedang menggendong putri mereka.</p>

<p>Kenapa Haechan bisa sangat lucu jika emosional begini? batin Mark.</p>

<p>“Aku masak sarapan untuk Diana dulu ya sebelum minum obatnya.” Ujar Mark sambil memberikan gendongan Diana pada Haechan.</p>

<p>Pikiran Haechan berkecambuk, menyalahkan dirinya yang dirasa tidak mampu mencegah demam ini.</p>

<p>“Papiii nggak salah...” gumam Diana kecil lalu kembali tertidur.</p>

<p>Senyum Haechan pun tertampang di wajahnya yang sedikit merona.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gitayuta.writeas.com/spy-x-mahaefams-fever-1</guid>
      <pubDate>Thu, 05 May 2022 21:21:07 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Urusai Richless  • GOMEN 😭 (3.)</title>
      <link>https://gitayuta.writeas.com/urusai-richless-gomen-3?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Urusai Richless  • GOMEN 😭 (3.)&#xA;&#xA;Hawa menyeramkan berada di belakang Haechan, dia menoleh dan terkejut bukan main melihat sosok berambut putih dengan hanya menggunakan kolor hitam berada di belakangnya.&#xA;&#xA;&#34;WOASU KAMJAGIYA!&#34; kejut Haechan sambil memegang dadanya karena kaget.&#xA;&#xA;Pria itu merengut melihat manusia gembel di depannya luwes untuk mengumpat di pagi hari.&#xA;&#xA;&#34;Excuse me? Kamu mengumpat setelah bangun? How funniest you, brat?&#34;&#xA;&#xA;Haechan yang paham sedang diejek pun memanas, &#34;Cok cangkem kowe dijaga? Brat-brat ape jink lu buat gua kaget! Koloran begitu cakep lu?&#34;&#xA;&#xA;Mang cakep sih —jawab sisi Haechan yang lain.&#xA;&#xA;Pria ini memandangnya rendah, &#34;Ini kamar gue, halo? Up to me, bahkan gw telanjang sekalipun.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Porn star anyink! Lu napa nyulik gw cuk? Terus ini baju gw lo ganti, wah ga beres lu mau lecehin gue kan—...&#34;&#xA;&#xA;Haechan yang menatap garang pun terdiam saat pria di depannya maju selangkah.&#xA;&#xA;&#34;Jaga omongan lo. Kalau pun ngehomo kaga demen gw sama gembel kaya lo. Lo yang tiba-tiba masuk mobil gw terus simulasi jadi mayat seharian, paham?&#34;&#xA;&#xA;Haechan pun memutar memorinya.&#xA;&#xA;Perlahan dia menatap wajah milik pria itu dengan cengiran yang tiba-tiba muncul. Apalagi setelah mengenal wajah pria itu.&#xA;&#xA;&#34;A-anu... pak eh mas hehe maaf-maaf yah hehe...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kagak semudah itu, sorry? Gw rugi bandar ya, Haechan Nurdin Sagala NIM 1xxxxx27 Prodi Teknik Geo, kelas Geomorfologi D.&#34; balas pria itu dengan smirknya.&#xA;&#xA;Haechan makin pusing kepalang, mau tak mau dia harus buang malu.&#xA;&#xA;&#34;HEHE, GOMEN MAS MARK 😭&#34;&#xA;&#xA;Ya, benar. Haechan si bego yang malah ngerusuh ke asdos mata kuliah, mantan asisten lab yang saat ini ternyata salah satu dosen pengujinya.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Urusai Richless  • GOMEN 😭 (3.)</p>

<p>Hawa menyeramkan berada di belakang Haechan, dia menoleh dan terkejut bukan main melihat sosok berambut putih dengan hanya menggunakan kolor hitam berada di belakangnya.</p>

<p>“WOASU KAMJAGIYA!” kejut Haechan sambil memegang dadanya karena kaget.</p>

<p>Pria itu merengut melihat manusia gembel di depannya luwes untuk mengumpat di pagi hari.</p>

<p>“Excuse me? Kamu mengumpat setelah bangun? How funniest you, brat?”</p>

<p>Haechan yang paham sedang diejek pun memanas, “Cok cangkem kowe dijaga? Brat-brat ape jink lu buat gua kaget! Koloran begitu cakep lu?”</p>

<p>Mang cakep sih —jawab sisi Haechan yang lain.</p>

<p>Pria ini memandangnya rendah, “Ini kamar gue, halo? Up to me, bahkan gw telanjang sekalipun.”</p>

<p>“Porn star anyink! Lu napa nyulik gw cuk? Terus ini baju gw lo ganti, wah ga beres lu mau lecehin gue kan—...”</p>

<p>Haechan yang menatap garang pun terdiam saat pria di depannya maju selangkah.</p>

<p>“Jaga omongan lo. Kalau pun ngehomo kaga demen gw sama gembel kaya lo. Lo yang tiba-tiba masuk mobil gw terus simulasi jadi mayat seharian, paham?”</p>

<p>Haechan pun memutar memorinya.</p>

<p>Perlahan dia menatap wajah milik pria itu dengan cengiran yang tiba-tiba muncul. Apalagi setelah mengenal wajah pria itu.</p>

<p>“A-anu... pak eh mas hehe maaf-maaf yah hehe...”</p>

<p>“Kagak semudah itu, sorry? Gw rugi bandar ya, Haechan Nurdin Sagala NIM 1xxxxx27 Prodi Teknik Geo, kelas Geomorfologi D.” balas pria itu dengan smirknya.</p>

<p>Haechan makin pusing kepalang, mau tak mau dia harus buang malu.</p>

<p>“HEHE, GOMEN MAS MARK 😭”</p>

<p>Ya, benar. Haechan si bego yang malah ngerusuh ke asdos mata kuliah, mantan asisten lab yang saat ini ternyata salah satu dosen pengujinya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gitayuta.writeas.com/urusai-richless-gomen-3</guid>
      <pubDate>Tue, 22 Feb 2022 18:28:58 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Urusai Richless  • Salah Masuk (3.)</title>
      <link>https://gitayuta.writeas.com/urusai-richless-salah-masuk-3?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Urusai Richless  • Salah Masuk (3.)&#xA;&#xA;Haechan berjalan masuk ke mobil putih sambil mengangkat telepon dari sang ibu. Beliau cukup banyak menuntut Haechan sesegera mungkin bisa menyelesaikan kuliahnya.&#xA;&#xA;&#34;IYE MAMAK! NANTIK YA AKU BARU MAU BALEK KOS YAH, MAK! PUSING INI MAK, LOP YU MAMAK.&#34; Ujarnya sengaja untuk mengakhiri panggilan. Haechan pun menutup matanya, sambil membenarkan posisi kacamata hitamnya yang bertengger di hidung.&#xA;&#xA;&#34;Etdah, cepetan jalan gw mau cepet tidor!&#34; Perintahnya pada seseorang di sampingnya yang dikiranya Jaemin.&#xA;&#xA;Orang itu kebingungan, terlebih suara mendengkur Haechan mulai terdengar yang membuatnya malas membuang energi untuk membalas. Dia kebingungan, mau tak mau dia tetap melajukan mobil ke tempat miliknya.&#xA;&#xA;Usai sampai pun, manusia yang sedang simulasi mati muda itu tetap tidak bisa dibangunkan. Akhirnya sosok tersebut terpaksa menggendong tubuhnya untuk masuk. &#xA;&#xA;Awalnya dia ingin membuang tubuh manusia lucknut bernama Haechan yang ileran itu di tong sampah, tapi karena kasian melihat wajah gembelnya terpaksa dia membawanya ke apartemen miliknya.&#xA;&#xA;&#34;Menyusahkan.&#34; Gumam pria itu, sambil tersenyum tipis yang tidak terlalu terlihat.&#xA;&#xA;•&#xA;&#xA;Dia pun membaringkan tubuh Haechan di ranjang miliknya, melepas sepatu sneaker KW milik pemuda itu, serta meletakkan kacamata hitam yang melorot karena hidung tak mancungnya.&#xA;&#xA;&#34;Lucu.&#34; Ujarnya duduk sambil mencubit pipi tembam Haechan yang membuat ilernya menetes.&#xA;&#xA;Pria itu mendecih sebal, &#34;Jorok.&#34; melihat liur dari manusia yang seperti gembel itu.&#xA;&#xA;Terlintas di pikirannya untuk mengganti pakaian kusam pemuda itu karena dia takut nanti akan ada kuman yang menempel di seprai mahalnya.&#xA;&#xA;&#34;Hm, semoga kulit saya gak gatal-gatal abis gantiin baju dia.&#34;&#xA;&#xA;Dia pun mengganti pakaian pemuda itu dengan sarung tangan plastik.&#xA;&#xA;Kaum OCD :)]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Urusai Richless  • Salah Masuk (3.)</p>

<p>Haechan berjalan masuk ke mobil putih sambil mengangkat telepon dari sang ibu. Beliau cukup banyak menuntut Haechan sesegera mungkin bisa menyelesaikan kuliahnya.</p>

<p>“IYE MAMAK! NANTIK YA AKU BARU MAU BALEK KOS YAH, MAK! PUSING INI MAK, LOP YU MAMAK.” Ujarnya sengaja untuk mengakhiri panggilan. Haechan pun menutup matanya, sambil membenarkan posisi kacamata hitamnya yang bertengger di hidung.</p>

<p>“Etdah, cepetan jalan gw mau cepet tidor!” Perintahnya pada seseorang di sampingnya yang dikiranya Jaemin.</p>

<p>Orang itu kebingungan, terlebih suara mendengkur Haechan mulai terdengar yang membuatnya malas membuang energi untuk membalas. Dia kebingungan, mau tak mau dia tetap melajukan mobil ke tempat miliknya.</p>

<p>Usai sampai pun, manusia yang sedang simulasi mati muda itu tetap tidak bisa dibangunkan. Akhirnya sosok tersebut terpaksa menggendong tubuhnya untuk masuk.</p>

<p>Awalnya dia ingin membuang tubuh manusia lucknut bernama Haechan yang ileran itu di tong sampah, tapi karena kasian melihat wajah gembelnya terpaksa dia membawanya ke apartemen miliknya.</p>

<p>“Menyusahkan.” Gumam pria itu, sambil tersenyum tipis yang tidak terlalu terlihat.</p>

<p>•</p>

<p>Dia pun membaringkan tubuh Haechan di ranjang miliknya, melepas sepatu sneaker KW milik pemuda itu, serta meletakkan kacamata hitam yang melorot karena hidung tak mancungnya.</p>

<p>“Lucu.” Ujarnya duduk sambil mencubit pipi tembam Haechan yang membuat ilernya menetes.</p>

<p>Pria itu mendecih sebal, “Jorok.” melihat liur dari manusia yang seperti gembel itu.</p>

<p>Terlintas di pikirannya untuk mengganti pakaian kusam pemuda itu karena dia takut nanti akan ada kuman yang menempel di seprai mahalnya.</p>

<p>“Hm, semoga kulit saya gak gatal-gatal abis gantiin baju dia.”</p>

<p>Dia pun mengganti pakaian pemuda itu dengan sarung tangan plastik.</p>

<p>Kaum OCD :)</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gitayuta.writeas.com/urusai-richless-salah-masuk-3</guid>
      <pubDate>Tue, 22 Feb 2022 18:04:51 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Urusai UU</title>
      <link>https://gitayuta.writeas.com/urusai-uu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Urusai UU&#xA;&#xA;Urusai Richless  • Salah Masuk (3.)&#xA;&#xA;Haechan berjalan masuk ke mobil putih sambil mengangkat telepon dari sang ibu. Beliau cukup banyak menuntut Haechan sesegera mungkin bisa menyelesaikan kuliahnya.&#xA;&#xA;&#34;IYE MAMAK! NANTIK YA AKU BARU MAU BALEK KOS YAH, MAK! PUSING INI MAK, LOP YU MAMAK.&#34; Ujarnya sengaja untuk mengakhiri panggilan. Haechan pun menutup matanya, sambil membenarkan posisi kacamata hitamnya yang bertengger di hidung.&#xA;&#xA;&#34;Etdah, cepetan jalan gw mau cepet tidor!&#34; Perintahnya pada seseorang di sampingnya yang dikiranya Jaemin.&#xA;&#xA;Orang itu kebingungan, terlebih suara mendengkur Haechan mulai terdengar yang membuatnya malas membuang energi untuk membalas. Dia kebingungan, mau tak mau dia tetap melajukan mobil ke tempat miliknya.&#xA;&#xA;Usai sampai pun, manusia yang sedang simulasi mati muda itu tetap tidak bisa dibangunkan. Akhirnya sosok tersebut terpaksa menggendong tubuhnya untuk masuk. &#xA;&#xA;Awalnya dia ingin membuang tubuh manusia lucknut bernama Haechan yang ileran itu di tong sampah, tapi karena kasian melihat wajah gembelnya terpaksa dia membawanya ke apartemen miliknya.&#xA;&#xA;&#34;Menyusahkan.&#34; Gumam pria itu, sambil tersenyum tipis yang tidak terlalu terlihat.&#xA;&#xA;•&#xA;&#xA;Dia pun membaringkan tubuh Haechan di ranjang miliknya, melepas sepatu sneaker KW milik pemuda itu, serta meletakkan kacamata hitam yang melorot karena hidung tak mancungnya.&#xA;&#xA;&#34;Lucu.&#34; Ujarnya duduk sambil mencubit pipi tembam Haechan yang membuat ilernya menetes.&#xA;&#xA;Pria itu mendecih sebal, &#34;Jorok.&#34; melihat liur dari manusia yang seperti gembel itu.&#xA;&#xA;Terlintas di pikirannya untuk mengganti pakaian kusam pemuda itu karena dia takut nanti akan ada kuman yang menempel di seprai mahalnya.&#xA;&#xA;&#34;Hm, semoga kulit saya gak gatal-gatal abis gantiin baju dia.&#34;&#xA;&#xA;Dia pun mengganti pakaian pemuda itu dengan sarung tangan plastik.&#xA;&#xA;Kaum OCD :)]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Urusai UU</p>

<p>Urusai Richless  • Salah Masuk (3.)</p>

<p>Haechan berjalan masuk ke mobil putih sambil mengangkat telepon dari sang ibu. Beliau cukup banyak menuntut Haechan sesegera mungkin bisa menyelesaikan kuliahnya.</p>

<p>“IYE MAMAK! NANTIK YA AKU BARU MAU BALEK KOS YAH, MAK! PUSING INI MAK, LOP YU MAMAK.” Ujarnya sengaja untuk mengakhiri panggilan. Haechan pun menutup matanya, sambil membenarkan posisi kacamata hitamnya yang bertengger di hidung.</p>

<p>“Etdah, cepetan jalan gw mau cepet tidor!” Perintahnya pada seseorang di sampingnya yang dikiranya Jaemin.</p>

<p>Orang itu kebingungan, terlebih suara mendengkur Haechan mulai terdengar yang membuatnya malas membuang energi untuk membalas. Dia kebingungan, mau tak mau dia tetap melajukan mobil ke tempat miliknya.</p>

<p>Usai sampai pun, manusia yang sedang simulasi mati muda itu tetap tidak bisa dibangunkan. Akhirnya sosok tersebut terpaksa menggendong tubuhnya untuk masuk.</p>

<p>Awalnya dia ingin membuang tubuh manusia lucknut bernama Haechan yang ileran itu di tong sampah, tapi karena kasian melihat wajah gembelnya terpaksa dia membawanya ke apartemen miliknya.</p>

<p>“Menyusahkan.” Gumam pria itu, sambil tersenyum tipis yang tidak terlalu terlihat.</p>

<p>•</p>

<p>Dia pun membaringkan tubuh Haechan di ranjang miliknya, melepas sepatu sneaker KW milik pemuda itu, serta meletakkan kacamata hitam yang melorot karena hidung tak mancungnya.</p>

<p>“Lucu.” Ujarnya duduk sambil mencubit pipi tembam Haechan yang membuat ilernya menetes.</p>

<p>Pria itu mendecih sebal, “Jorok.” melihat liur dari manusia yang seperti gembel itu.</p>

<p>Terlintas di pikirannya untuk mengganti pakaian kusam pemuda itu karena dia takut nanti akan ada kuman yang menempel di seprai mahalnya.</p>

<p>“Hm, semoga kulit saya gak gatal-gatal abis gantiin baju dia.”</p>

<p>Dia pun mengganti pakaian pemuda itu dengan sarung tangan plastik.</p>

<p>Kaum OCD :)</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gitayuta.writeas.com/urusai-uu</guid>
      <pubDate>Tue, 22 Feb 2022 18:04:49 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>mahae fams • Next my job, right? (8. End)</title>
      <link>https://gitayuta.writeas.com/mahae-fams-next-my-job-right?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[mahae fams • Next my job, right? (8. End)&#xA;&#xA;Haechan mendatangi kamar anak gadisnya. Hari ini Ningning tidak masuk sekolah karena suhu badannya naik dan sedikit flu. Sebagai sang papa, Haechan merawat anaknya telaten sembari mengasuh bayi dan anak ketiganya.&#xA;&#xA;Suaminya saat ini masih di luar kota mengurus beberapa legalasi dan mencari pihak yang mau kerjasama, begitu pula dengan si sulung yang mengambil bimbel privat karena tawaran sang kakek sehingga dia harus tinggal di sana.&#xA;&#xA;Haechan duduk di ranjang anak gadisnya itu, mengelus surai merah yany dimiliki. Seketika Ningning terbangun, &#34;Papa,&#34; Panggil lirih, lalu tanpa sadar air matanya jatuh.&#xA;&#xA;Ningning menyambut pelukan sang papa usia mengambil posisi duduk. Dia tak kuasa menahan tangis. Hari-hari belakangan saat sekolah dia lewati tidak terlalu baik karena oknum yang tidak menyukainya menjadi finalis lomba menyanyi antar nasional, mengetahui kehidupan pribadinya terutama hubungan sang papa dan daddy.&#xA;&#xA;&#34;Cup cup, anak manis papa. Kakak berhenti dulu ya nangsnya? Mata kakak capek, kan?&#34;&#xA;&#xA;Haechan mengendurkan pelukannya, menatap Ningning yang dibalas anggukan.&#xA;&#xA;Tersenyum kecil, Haechan melanjutkan ucapannya, &#34;Mau cerita?&#34;&#xA;&#xA;Ningning melirik sang papa, &#34;P-papa jangan ambil hati yah-hikss.. Kakak gak mau papa sedih..&#34;&#xA;&#xA;Haechan mengangguk dengan tangannya mengelus surai Ningning. Ningning mulai menceritakan, awal mula dia lolos mewakili sekolah untuk ajang lomba menyanyi, lalu ada teman yang tidak suka karena merasa seleksi yang Ningning lalui tidak adil. Orang itu pun mulai mencari tau dan memanfaatkan orangtuanya untuk menghina bahkan mengolok-olok Ningning.&#xA;&#xA;Ningning sendiri mengatakan, dia tidak bisa membalas perlakuan itu karena dia tidak mau bila orangtuanya datang ke sekolah bukan karena prestasi bukan masalah. Apalagi sohib baiknya sekarang sedang berjuang untuk ujian tes masuk universitas dan ajang olimpiade provinsi, sehingga hanya Ningning yang berdiri sendiri di sekolah.&#xA;&#xA;Haechan sendiri paham, anaknya berjuang mati-matian hingga tertidur saat latihan vokal di studio milik iparnya.&#xA;&#xA;&#34;Papa, jangan bilang daddy ya?&#34; pinta Ningning lirih. Dia takut, apabila sang daddy bertindak makan dunia bisa saja hancur bila anak-anaknya bersedih.&#xA;&#xA;Haechan hanya diam sambil membawa tubuh putrinya tidur.&#xA;&#xA;Mana mungkin Haechan hanya diam.&#xA;&#xA;•&#xA;&#xA;&#34;Kakak...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Anak gadisku dijahatin disaat dia gak melakukan kejahatan. Kakak tolong, aku butuh bantuan kakak... sebagai ayahnya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Apapun bakal aku lakukan untuk kebahagiaan anak-anakku, dek. Just wait, okay?&#34;&#xA;&#xA;•&#xA;&#xA;&#34;Abang,&#34;&#xA;&#xA;Menoleh, &#34;Ya, dad. Pelaku adalah &#39;anu&#39; anak dari pejabat &#39;xxx&#39; yang terkenal dengan kemewahan dan problematikanya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nice, son. Next my job, right?&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>mahae fams • Next my job, right? (8. End)</p>

<p>Haechan mendatangi kamar anak gadisnya. Hari ini Ningning tidak masuk sekolah karena suhu badannya naik dan sedikit flu. Sebagai sang papa, Haechan merawat anaknya telaten sembari mengasuh bayi dan anak ketiganya.</p>

<p>Suaminya saat ini masih di luar kota mengurus beberapa legalasi dan mencari pihak yang mau kerjasama, begitu pula dengan si sulung yang mengambil bimbel privat karena tawaran sang kakek sehingga dia harus tinggal di sana.</p>

<p>Haechan duduk di ranjang anak gadisnya itu, mengelus surai merah yany dimiliki. Seketika Ningning terbangun, “Papa,” Panggil lirih, lalu tanpa sadar air matanya jatuh.</p>

<p>Ningning menyambut pelukan sang papa usia mengambil posisi duduk. Dia tak kuasa menahan tangis. Hari-hari belakangan saat sekolah dia lewati tidak terlalu baik karena oknum yang tidak menyukainya menjadi finalis lomba menyanyi antar nasional, mengetahui kehidupan pribadinya terutama hubungan sang papa dan daddy.</p>

<p>“Cup cup, anak manis papa. Kakak berhenti dulu ya nangsnya? Mata kakak capek, kan?”</p>

<p>Haechan mengendurkan pelukannya, menatap Ningning yang dibalas anggukan.</p>

<p>Tersenyum kecil, Haechan melanjutkan ucapannya, “Mau cerita?”</p>

<p>Ningning melirik sang papa, “P-papa jangan ambil hati yah-hikss.. Kakak gak mau papa sedih..”</p>

<p>Haechan mengangguk dengan tangannya mengelus surai Ningning. Ningning mulai menceritakan, awal mula dia lolos mewakili sekolah untuk ajang lomba menyanyi, lalu ada teman yang tidak suka karena merasa seleksi yang Ningning lalui tidak adil. Orang itu pun mulai mencari tau dan memanfaatkan orangtuanya untuk menghina bahkan mengolok-olok Ningning.</p>

<p>Ningning sendiri mengatakan, dia tidak bisa membalas perlakuan itu karena dia tidak mau bila orangtuanya datang ke sekolah bukan karena prestasi bukan masalah. Apalagi sohib baiknya sekarang sedang berjuang untuk ujian tes masuk universitas dan ajang olimpiade provinsi, sehingga hanya Ningning yang berdiri sendiri di sekolah.</p>

<p>Haechan sendiri paham, anaknya berjuang mati-matian hingga tertidur saat latihan vokal di studio milik iparnya.</p>

<p>“Papa, jangan bilang daddy ya?” pinta Ningning lirih. Dia takut, apabila sang daddy bertindak makan dunia bisa saja hancur bila anak-anaknya bersedih.</p>

<p>Haechan hanya diam sambil membawa tubuh putrinya tidur.</p>

<p>Mana mungkin Haechan hanya diam.</p>

<p>•</p>

<p>“Kakak...”</p>

<p>“Iya?”</p>

<p>“Anak gadisku dijahatin disaat dia gak melakukan kejahatan. Kakak tolong, aku butuh bantuan kakak... sebagai ayahnya.”</p>

<p>“Apapun bakal aku lakukan untuk kebahagiaan anak-anakku, dek. Just wait, okay?”</p>

<p>•</p>

<p>“Abang,”</p>

<p>Menoleh, “Ya, dad. Pelaku adalah &#39;anu&#39; anak dari pejabat &#39;xxx&#39; yang terkenal dengan kemewahan dan problematikanya.”</p>

<p>“Nice, son. Next my job, right?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gitayuta.writeas.com/mahae-fams-next-my-job-right</guid>
      <pubDate>Thu, 10 Feb 2022 18:53:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>The Proker • Bincang &amp; Peluk (4.)</title>
      <link>https://gitayuta.writeas.com/the-proker-bincang-and-peluk-4?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[The Proker • Bincang &amp; Peluk (4.)&#xA;&#xA;Haechan berjalan masuk ke caffe setelah membayar parkir motornya di depan. &#xA;&#xA;&#39;Baju Abu-abu sama beanie&#39;&#xA;&#xA;Dia membaca balasan pesannya, matanya segera mencari sosok yang dituju. Dia pun berjalan mendekati pemuda yang asik menikmati kopi sambil menatap di luar jendela.&#xA;&#xA;&#34;Halo, mas.&#34; Sapa Haechan mengalihkan atensi milik pemuda itu.&#xA;&#xA;Dia sedikit terkejut, sehingga membuat krim lattenya menempel, &#34;Halo, Haechan. Duduk dulu.&#34; &#xA;&#xA;Haechan membalasnya &#39;oke&#39; lalu mengambil posisi berhadapan dengannya.&#xA;&#xA;&#34;Udah lama, mas?&#34;&#xA;&#xA;Dibalas gelengan oleh pemuda, &#34;Gak lama banget,&#34; dia menatap Haechan dengan seksama, &#34;lu baru bangun tidur?&#34;&#xA;&#xA;Haechan berjengit, &#34;Eh? Keliatan ya mas?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, wkwk. Lain kali gak usah buru-buru banget ya, lucu banget lu keluar masih belekan gini.&#34; Tangan Mark bantu membersihkan kotoran mata Haechan dengan tisu yang ada di kantongnya.&#xA;&#xA;Sementara itu Haechan termenung, agak kikuk rasanya.&#xA;&#xA;&#34;E-eh, makasih mas.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Santai.&#34;&#xA;&#xA;Mereka berdua pun duduk di tempatnya masing-masing. Haechan dengan ponsel dan kepura-puraannya dan Mark yang menatapnya sambil sesekali meneguk minuman.&#xA;&#xA;Sebenarnya Haechan salah tingkah ditatap seperti itu padahal biasanya tidak. Aura Mark begitu kuat sehingga membuat dirinya kaku.&#xA;&#xA;&#34;Lo anak organisasi?&#34; Tanya Mark memecah keheningan.&#xA;&#xA;&#34;Bisa dibilang, tapi saya sendiri mau coba magang atau KP tahun depan.&#34;&#xA;&#xA;Kerja Praktek&#xA;&#xA;&#34;Wow, bagus banget udah ada rencana.&#34;&#xA;&#xA;Haechan terkekeh kecil, &#34;Organisasi ga cukup sih mas buat kerja, saya realistis aja orangnya. Jadi mau cari pengalaman kerja dulu.&#34;&#xA;&#xA;Mark setuju mengangguk, &#34;Bener. Tapi kenapa ga coba asisten praktikum?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aduh, ketolak terus mas. Saingan berat banget.&#34;&#xA;&#xA;Mark meletakkan cangkir kopinya, &#34;Lo salah pilih praktikum kali wkwk. Kalau mau coba aja daftar di lab gw, nanti bisa gw bantu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Haha mas bisa aja, makasih loh mas.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dipikirin aja— Wei Jamal! Baru datang lu.&#34; Ucapan Mark terhenti saat kehadiran Jamal diikuti oleh Dery.&#xA;&#xA;Mereka pun berbincang mengenai proker lebih dalam. Membuat jobdesk dan penentuan tanggal dengan jadwal alumni yang Mark miliki.&#xA;&#xA;Sesekali Mark mencuri pandang, sedangkan Haechan sedikit merasa risih oleh tingkah pemuda itu.&#xA;&#xA;Tak lama, bahasan pun makin mencair. Jamal, Dery, dan Haechan mulai menghisap vape mereka masing-masing. Lain hal dengan Mark yang bukan perokok elektrik itu.&#xA;&#xA;&#34;Btw, gw boleh nebeng gak? Motor masuk rumah sakit haha, lagi penghematan juga gw.&#34; cetus Mark.&#xA;&#xA;&#34;Duh, gw kesini bareng Dery, Mark. Lu sama Haechan aja, lu bawa motor kan Chan?&#34;&#xA;&#xA;Haechan mau tak mau mengiyakan, bagaimana pun Mark adalah katingnya meski orang ini cukup aneh baginya.&#xA;&#xA;&#34;Boleh, bang.&#34;&#xA;&#xA;Setelahnya keempat mereka pun keluar menuju parkiran.&#xA;&#xA;&#34;Duluan, Mark Haechan!&#34; pamit Jamal dan Dery berbarengan.&#xA;&#xA;Sekarang tinggalah dua sejoli itu.&#xA;&#xA;&#34;Mas mau bawa motor?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boleh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, mas. Aku takut jatuh kalo boncengin cowok.&#34;&#xA;&#xA;Mark menoleh dengan smirknya, &#34;Seriusan apa lu cuma mau boncengin cewek aja, Chan?&#34; dilanjuti dengan tawa Mark.&#xA;&#xA;Haechan menatap kesal kepada pemuda itu, sepertinya dia tak sadar diri dengan badannya yang besar itu meskipun tinggi mereka tidak beda jauh. Haechan takut jika tidak bisa mengontrol motor nya jika membonceng badan besar Mark, trauma sempat membonceng bapaknya.&#xA;&#xA;&#34;Badan mas itulohhh! Aku takut nanti kita jatuh kalo aku bawa.&#34; jawab Haechan setengah marah, karena tingkah pemuda ini mulai mengesalkan.&#xA;&#xA;&#34;Iyadeh, mana kunci.&#34;&#xA;&#xA;Dia memberikan kunci motor, lalu membiarkan Mark mengeluarkan motornya.&#xA;&#xA;&#34;Udah?&#34; tanya Mark, begitu Haechan duduk.&#xA;&#xA;&#34;Ya,&#34;&#xA;&#xA;Mark menarik tangan Haechan untuk memeluk perutnya.&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Takut lu jatuh nanti, pegangan ya.&#34;&#xA;&#xA;Iya melajukan motor, meninggalkan cafe sedangkan tangan Haechan keduanya telah berada untuk memeluk Mark dari belakang karena ternyata laki-laki itu cukup gila saat mengemudi.&#xA;&#xA;&#34;Pelan-pelan, mas!&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>The Proker • Bincang &amp; Peluk (4.)</p>

<p>Haechan berjalan masuk ke caffe setelah membayar parkir motornya di depan.</p>

<p>&#39;Baju Abu-abu sama beanie&#39;</p>

<p>Dia membaca balasan pesannya, matanya segera mencari sosok yang dituju. Dia pun berjalan mendekati pemuda yang asik menikmati kopi sambil menatap di luar jendela.</p>

<p>“Halo, mas.” Sapa Haechan mengalihkan atensi milik pemuda itu.</p>

<p>Dia sedikit terkejut, sehingga membuat krim lattenya menempel, “Halo, Haechan. Duduk dulu.”</p>

<p>Haechan membalasnya &#39;oke&#39; lalu mengambil posisi berhadapan dengannya.</p>

<p>“Udah lama, mas?”</p>

<p>Dibalas gelengan oleh pemuda, “Gak lama banget,” dia menatap Haechan dengan seksama, “lu baru bangun tidur?”</p>

<p>Haechan berjengit, “Eh? Keliatan ya mas?”</p>

<p>“Iya, wkwk. Lain kali gak usah buru-buru banget ya, lucu banget lu keluar masih belekan gini.” Tangan Mark bantu membersihkan kotoran mata Haechan dengan tisu yang ada di kantongnya.</p>

<p>Sementara itu Haechan termenung, agak kikuk rasanya.</p>

<p>“E-eh, makasih mas.”</p>

<p>“Santai.”</p>

<p>Mereka berdua pun duduk di tempatnya masing-masing. Haechan dengan ponsel dan kepura-puraannya dan Mark yang menatapnya sambil sesekali meneguk minuman.</p>

<p>Sebenarnya Haechan salah tingkah ditatap seperti itu padahal biasanya tidak. Aura Mark begitu kuat sehingga membuat dirinya kaku.</p>

<p>“Lo anak organisasi?” Tanya Mark memecah keheningan.</p>

<p>“Bisa dibilang, tapi saya sendiri mau coba magang atau KP* tahun depan.”</p>

<p>*Kerja Praktek</p>

<p>“Wow, bagus banget udah ada rencana.”</p>

<p>Haechan terkekeh kecil, “Organisasi ga cukup sih mas buat kerja, saya realistis aja orangnya. Jadi mau cari pengalaman kerja dulu.”</p>

<p>Mark setuju mengangguk, “Bener. Tapi kenapa ga coba asisten praktikum?”</p>

<p>“Aduh, ketolak terus mas. Saingan berat banget.”</p>

<p>Mark meletakkan cangkir kopinya, “Lo salah pilih praktikum kali wkwk. Kalau mau coba aja daftar di lab gw, nanti bisa gw bantu.”</p>

<p>“Haha mas bisa aja, makasih loh mas.”</p>

<p>“Dipikirin aja— Wei Jamal! Baru datang lu.” Ucapan Mark terhenti saat kehadiran Jamal diikuti oleh Dery.</p>

<p>Mereka pun berbincang mengenai proker lebih dalam. Membuat jobdesk dan penentuan tanggal dengan jadwal alumni yang Mark miliki.</p>

<p>Sesekali Mark mencuri pandang, sedangkan Haechan sedikit merasa risih oleh tingkah pemuda itu.</p>

<p>Tak lama, bahasan pun makin mencair. Jamal, Dery, dan Haechan mulai menghisap vape mereka masing-masing. Lain hal dengan Mark yang bukan perokok elektrik itu.</p>

<p>“Btw, gw boleh nebeng gak? Motor masuk rumah sakit haha, lagi penghematan juga gw.” cetus Mark.</p>

<p>“Duh, gw kesini bareng Dery, Mark. Lu sama Haechan aja, lu bawa motor kan Chan?”</p>

<p>Haechan mau tak mau mengiyakan, bagaimana pun Mark adalah katingnya meski orang ini cukup aneh baginya.</p>

<p>“Boleh, bang.”</p>

<p>Setelahnya keempat mereka pun keluar menuju parkiran.</p>

<p>“Duluan, Mark Haechan!” pamit Jamal dan Dery berbarengan.</p>

<p>Sekarang tinggalah dua sejoli itu.</p>

<p>“Mas mau bawa motor?”</p>

<p>“Boleh?”</p>

<p>“Iya, mas. Aku takut jatuh kalo boncengin cowok.”</p>

<p>Mark menoleh dengan smirknya, “Seriusan apa lu cuma mau boncengin cewek aja, Chan?” dilanjuti dengan tawa Mark.</p>

<p>Haechan menatap kesal kepada pemuda itu, sepertinya dia tak sadar diri dengan badannya yang besar itu meskipun tinggi mereka tidak beda jauh. Haechan takut jika tidak bisa mengontrol motor nya jika membonceng badan besar Mark, trauma sempat membonceng bapaknya.</p>

<p>“Badan mas itulohhh! Aku takut nanti kita jatuh kalo aku bawa.” jawab Haechan setengah marah, karena tingkah pemuda ini mulai mengesalkan.</p>

<p>“Iyadeh, mana kunci.”</p>

<p>Dia memberikan kunci motor, lalu membiarkan Mark mengeluarkan motornya.</p>

<p>“Udah?” tanya Mark, begitu Haechan duduk.</p>

<p>“Ya,”</p>

<p>Mark menarik tangan Haechan untuk memeluk perutnya.</p>

<p>“Eh?”</p>

<p>“Takut lu jatuh nanti, pegangan ya.”</p>

<p>Iya melajukan motor, meninggalkan cafe sedangkan tangan Haechan keduanya telah berada untuk memeluk Mark dari belakang karena ternyata laki-laki itu cukup gila saat mengemudi.</p>

<p>“Pelan-pelan, mas!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gitayuta.writeas.com/the-proker-bincang-and-peluk-4</guid>
      <pubDate>Mon, 24 Jan 2022 19:29:47 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>The Proker • Bincang &amp; Peluk (5.)</title>
      <link>https://gitayuta.writeas.com/the-proker-bincang-and-peluk-5?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[The Proker • Bincang &amp; Peluk (5.)&#xA;&#xA;Haechan berjalan masuk ke caffe setelah membayar parkir motornya di depan. &#xA;&#xA;&#39;Baju Abu-abu sama beanie&#39;&#xA;&#xA;Dia membaca balasan pesannya, matanya segera mencari sosok yang dituju. Dia pun berjalan mendekati pemuda yang asik menikmati kopi sambil menatap di luar jendela.&#xA;&#xA;&#34;Halo, mas.&#34; Sapa Haechan mengalihkan atensi milik pemuda itu.&#xA;&#xA;Dia sedikit terkejut, sehingga membuat krim lattenya menempel, &#34;Halo, Haechan. Duduk dulu.&#34; &#xA;&#xA;Haechan membalasnya &#39;oke&#39; lalu mengambil posisi berhadapan dengannya.&#xA;&#xA;&#34;Udah lama, mas?&#34;&#xA;&#xA;Dibalas gelengan oleh pemuda, &#34;Gak lama banget,&#34; dia menatap Haechan dengan seksama, &#34;lu baru bangun tidur?&#34;&#xA;&#xA;Haechan berjengit, &#34;Eh? Keliatan ya mas?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, wkwk. Lain kali gak usah buru-buru banget ya, lucu banget lu keluar masih belekan gini.&#34; Tangan Mark bantu membersihkan kotoran mata Haechan dengan tisu yang ada di kantongnya.&#xA;&#xA;Sementara itu Haechan termenung, agak kikuk rasanya.&#xA;&#xA;&#34;E-eh, makasih mas.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Santai.&#34;&#xA;&#xA;Mereka berdua pun duduk di tempatnya masing-masing. Haechan dengan ponsel dan kepura-puraannya dan Mark yang menatapnya sambil sesekali meneguk minuman.&#xA;&#xA;Sebenarnya Haechan salah tingkah ditatap seperti itu padahal biasanya tidak. Aura Mark begitu kuat sehingga membuat dirinya kaku.&#xA;&#xA;&#34;Lo anak organisasi?&#34; Tanya Mark memecah keheningan.&#xA;&#xA;&#34;Bisa dibilang, tapi saya sendiri mau coba magang atau KP* tahun depan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wow, bagus banget udah ada rencana.&#34;&#xA;&#xA;Haechan terkekeh kecil, &#34;Organisasi ga cukup sih mas buat kerja, saya realistis aja orangnya. Jadi mau cari pengalaman kerja dulu.&#34;&#xA;&#xA;Mark setuju mengangguk, &#34;Bener. Tapi kenapa ga coba asisten praktikum?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aduh, ketolak terus mas. Saingan berat banget.&#34;&#xA;&#xA;Mark meletakkan cangkir kopinya, &#34;Lo salah pilih praktikum kali wkwk. Kalau mau coba aja daftar di lab gw, nanti bisa gw bantu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Haha mas bisa aja, makasih loh mas.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dipikirin aja— Wei Jamal! Baru datang lu.&#34; Ucapan Mark terhenti saat kehadiran Jamal diikuti oleh Dery.&#xA;&#xA;Mereka pun berbincang mengenai proker lebih dalam. Membuat jobdesk dan penentuan tanggal dengan jadwal alumni yang Mark miliki.&#xA;&#xA;Sesekali Mark mencuri pandang, sedangkan Haechan sedikit merasa risih oleh tingkah pemuda itu.&#xA;&#xA;Tak lama, bahasan pun makin mencair. Jamal, Dery, dan Haechan mulai menghisap vape mereka masing-masing. Lain hal dengan Mark yang bukan perokok elektrik itu.&#xA;&#xA;&#34;Btw, gw boleh nebeng gak? Motor masuk rumah sakit haha, lagi penghematan juga gw.&#34; cetus Mark.&#xA;&#xA;&#34;Duh, gw kesini bareng Dery, Mark. Lu sama Haechan aja, lu bawa motor kan Chan?&#34;&#xA;&#xA;Haechan mau tak mau mengiyakan, bagaimana pun Mark adalah katingnya meski orang ini cukup aneh baginya.&#xA;&#xA;&#34;Boleh, bang.&#34;&#xA;&#xA;Setelahnya keempat mereka pun keluar menuju parkiran.&#xA;&#xA;&#34;Duluan, Mark Haechan!&#34; pamit Jamal dan Dery berbarengan.&#xA;&#xA;Sekarang tinggalah dua sejoli itu.&#xA;&#xA;&#34;Mas mau bawa motor?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boleh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, mas. Aku takut jatuh kalo boncengin cowok.&#34;&#xA;&#xA;Mark menoleh dengan smirknya, &#34;Seriusan apa lu cuma mau boncengin cewek aja, Chan?&#34; dilanjuti dengan tawa Mark.&#xA;&#xA;Haechan menatap kesal kepada pemuda itu, sepertinya dia tak sadar diri dengan badannya yang besar itu meskipun tinggi mereka tidak beda jauh. Haechan takut jika tidak bisa mengontrol motor nya jika membonceng badan besar Mark, trauma sempat membonceng bapaknya.&#xA;&#xA;&#34;Badan mas itulohhh! Aku takut nanti kita jatuh kalo aku bawa.&#34; jawab Haechan setengah marah, karena tingkah pemuda ini mulai mengesalkan.&#xA;&#xA;&#34;Iyadeh, mana kunci.&#34;&#xA;&#xA;Dia memberikan kunci motor, lalu membiarkan Mark mengeluarkan motornya.&#xA;&#xA;&#34;Udah?&#34; tanya Mark, begitu Haechan duduk.&#xA;&#xA;&#34;Ya,&#34;&#xA;&#xA;Mark menarik tangan Haechan untuk memeluk perutnya.&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Takut lu jatuh nanti, pegangan ya.&#34;&#xA;&#xA;Iya melajukan motor, meninggalkan cafe sedangkan tangan Haechan keduanya telah berada untuk memeluk Mark dari belakang karena ternyata laki-laki itu cukup gila saat mengemudi.&#xA;&#xA;&#34;Pelan-pelan, mas!&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>The Proker • Bincang &amp; Peluk (5.)</p>

<p>Haechan berjalan masuk ke caffe setelah membayar parkir motornya di depan.</p>

<p>&#39;Baju Abu-abu sama beanie&#39;</p>

<p>Dia membaca balasan pesannya, matanya segera mencari sosok yang dituju. Dia pun berjalan mendekati pemuda yang asik menikmati kopi sambil menatap di luar jendela.</p>

<p>“Halo, mas.” Sapa Haechan mengalihkan atensi milik pemuda itu.</p>

<p>Dia sedikit terkejut, sehingga membuat krim lattenya menempel, “Halo, Haechan. Duduk dulu.”</p>

<p>Haechan membalasnya &#39;oke&#39; lalu mengambil posisi berhadapan dengannya.</p>

<p>“Udah lama, mas?”</p>

<p>Dibalas gelengan oleh pemuda, “Gak lama banget,” dia menatap Haechan dengan seksama, “lu baru bangun tidur?”</p>

<p>Haechan berjengit, “Eh? Keliatan ya mas?”</p>

<p>“Iya, wkwk. Lain kali gak usah buru-buru banget ya, lucu banget lu keluar masih belekan gini.” Tangan Mark bantu membersihkan kotoran mata Haechan dengan tisu yang ada di kantongnya.</p>

<p>Sementara itu Haechan termenung, agak kikuk rasanya.</p>

<p>“E-eh, makasih mas.”</p>

<p>“Santai.”</p>

<p>Mereka berdua pun duduk di tempatnya masing-masing. Haechan dengan ponsel dan kepura-puraannya dan Mark yang menatapnya sambil sesekali meneguk minuman.</p>

<p>Sebenarnya Haechan salah tingkah ditatap seperti itu padahal biasanya tidak. Aura Mark begitu kuat sehingga membuat dirinya kaku.</p>

<p>“Lo anak organisasi?” Tanya Mark memecah keheningan.</p>

<p>“Bisa dibilang, tapi saya sendiri mau coba magang atau KP* tahun depan.”</p>

<p>“Wow, bagus banget udah ada rencana.”</p>

<p>Haechan terkekeh kecil, “Organisasi ga cukup sih mas buat kerja, saya realistis aja orangnya. Jadi mau cari pengalaman kerja dulu.”</p>

<p>Mark setuju mengangguk, “Bener. Tapi kenapa ga coba asisten praktikum?”</p>

<p>“Aduh, ketolak terus mas. Saingan berat banget.”</p>

<p>Mark meletakkan cangkir kopinya, “Lo salah pilih praktikum kali wkwk. Kalau mau coba aja daftar di lab gw, nanti bisa gw bantu.”</p>

<p>“Haha mas bisa aja, makasih loh mas.”</p>

<p>“Dipikirin aja— Wei Jamal! Baru datang lu.” Ucapan Mark terhenti saat kehadiran Jamal diikuti oleh Dery.</p>

<p>Mereka pun berbincang mengenai proker lebih dalam. Membuat jobdesk dan penentuan tanggal dengan jadwal alumni yang Mark miliki.</p>

<p>Sesekali Mark mencuri pandang, sedangkan Haechan sedikit merasa risih oleh tingkah pemuda itu.</p>

<p>Tak lama, bahasan pun makin mencair. Jamal, Dery, dan Haechan mulai menghisap vape mereka masing-masing. Lain hal dengan Mark yang bukan perokok elektrik itu.</p>

<p>“Btw, gw boleh nebeng gak? Motor masuk rumah sakit haha, lagi penghematan juga gw.” cetus Mark.</p>

<p>“Duh, gw kesini bareng Dery, Mark. Lu sama Haechan aja, lu bawa motor kan Chan?”</p>

<p>Haechan mau tak mau mengiyakan, bagaimana pun Mark adalah katingnya meski orang ini cukup aneh baginya.</p>

<p>“Boleh, bang.”</p>

<p>Setelahnya keempat mereka pun keluar menuju parkiran.</p>

<p>“Duluan, Mark Haechan!” pamit Jamal dan Dery berbarengan.</p>

<p>Sekarang tinggalah dua sejoli itu.</p>

<p>“Mas mau bawa motor?”</p>

<p>“Boleh?”</p>

<p>“Iya, mas. Aku takut jatuh kalo boncengin cowok.”</p>

<p>Mark menoleh dengan smirknya, “Seriusan apa lu cuma mau boncengin cewek aja, Chan?” dilanjuti dengan tawa Mark.</p>

<p>Haechan menatap kesal kepada pemuda itu, sepertinya dia tak sadar diri dengan badannya yang besar itu meskipun tinggi mereka tidak beda jauh. Haechan takut jika tidak bisa mengontrol motor nya jika membonceng badan besar Mark, trauma sempat membonceng bapaknya.</p>

<p>“Badan mas itulohhh! Aku takut nanti kita jatuh kalo aku bawa.” jawab Haechan setengah marah, karena tingkah pemuda ini mulai mengesalkan.</p>

<p>“Iyadeh, mana kunci.”</p>

<p>Dia memberikan kunci motor, lalu membiarkan Mark mengeluarkan motornya.</p>

<p>“Udah?” tanya Mark, begitu Haechan duduk.</p>

<p>“Ya,”</p>

<p>Mark menarik tangan Haechan untuk memeluk perutnya.</p>

<p>“Eh?”</p>

<p>“Takut lu jatuh nanti, pegangan ya.”</p>

<p>Iya melajukan motor, meninggalkan cafe sedangkan tangan Haechan keduanya telah berada untuk memeluk Mark dari belakang karena ternyata laki-laki itu cukup gila saat mengemudi.</p>

<p>“Pelan-pelan, mas!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gitayuta.writeas.com/the-proker-bincang-and-peluk-5</guid>
      <pubDate>Mon, 24 Jan 2022 19:28:40 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>mahae fams • Trust Me (6.)</title>
      <link>https://gitayuta.writeas.com/mahae-fams-trust-me-6-nqsf?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[mahae fams • Trust Me (6.)&#xA;&#xA;Akhirnya Mark menampilkan senyum tipis usai kembali membaca balasan suaminya. Mark memasukkan ponselnya ke saku, lalu bersandar pada kursi bus dan mengeratkan jaketnya karena bus malem sangat dingin ditambah lagi hujan diluar sana.&#xA;&#xA;Terpaksa, pria yang hampir masuk usia paruh baya itu menaiki bus demi menghemat biaya bahan bakar terlebih lagi mobilnya sedang bermasalah di mesin terpaksa dia tinggalkan di garasi rumah saudaranya. Sebenarnya bisa saja Mark diberi pinjaman oleh sang ayah, tapi pria itu cukup gengsi lantasan proposal ajuan pencairan dana cabangnya masih ditolak. Terlebih lagi Mark yang pulang mendadak akan menimbulkan pertanyaan kepada sang ayah.&#xA;&#xA;&#34;Good Hell,&#34; umpat Mark sambil memejamkan matanya mencoba istirahat sejenak dari beban pikiran yang dialami.&#xA;&#xA;Bus malam melaju cepat hingga berada di perbatasan kota, Mark terbangun sejenak lalu mengecek jam di ponselnya yang menunjukkan dini hari.&#xA;&#xA;Setelah sampai di terminal kotanya, Mark turun dari bus, memesan taksi online ke rumahnya. Dia merasa gugup menemui suami dan anak-anaknya.&#xA;&#xA;Dia pun sampai, membuka pagar rumah dan pintu rumahnya.&#xA;&#xA;&#34;Daddy pulang,&#34; Gumamnya agak pelan takut membangun anak kecilnya.&#xA;&#xA;Terlihat di sopa, Chenle yang tidur dalam posisi duduk dengan sang adik, Ningning yang tertidur menggenggam selimut di bersandar di pundak sang abang.&#xA;&#xA;Merasa kehadiran orang lain, Chenle terbangun dari tidurnya. Di hadapannya sang ayah berdiri.&#xA;&#xA;&#34;Daddy?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Bangun, Son. Sana lanjut tidur di kamar, bawa kakak juga.&#34;&#xA;&#xA;Ningning disampingnya ikut terbangun karena pembicaraan singkat itu.&#xA;&#xA;&#34;Hnhh, daddy???&#34;&#xA;&#xA;Mark mengusap pucuk kepala anak gadis tertuanya, &#34;Lanjut tidur di kamar, kak.&#34;&#xA;&#xA;Mereka berdua menuruti perintah sang ayah lalu menuju ke kamar masing-masing meninggalkan Mark yang menghela nafas untuk masuk ke kamarnya pula.&#xA;&#xA;Perlahan Mark buka pintunya, tak ingin membangunkan suaminya yang tertidur lelap. Mark menatap wajah sendu Haechan yang terlihat ada bekas air mata mengalir.&#xA;&#xA;&#34;Kakak...&#34; Gumam Haechan membuka mata begitu menyadarkan diri akan atensi sang suami.&#xA;&#xA;&#34;Adek,&#34; balas Mark. Dia ikut menempatkan tubuhnya diranjang. Mereka pun berhadapan satu sama lain.&#xA;&#xA;Haechan tak kuasa menahan tangis, dia memeluk tubuh besar suaminya, menepis kemarahannya. Rindu, kesal, dan marah bagai terlarut dalam pelukan itu. Mark merasakan tubuh Haechan bergetar karena tangisnya yang cukup memilukan bagi Mark.&#xA;&#xA;&#34;K-kakak hiks—hiks..&#34; &#xA;&#xA;Mark memposisikan tubuh Haechan agar tidak terlalu menindih perut besarnya. Menenangkan tubuh suaminya yang rapuh itu.&#xA;&#xA;Hingga Haechan lumayan tenang, Mark mulai angkat bicara.&#xA;&#xA;&#34;Sayang,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, kak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kakak gak maksa, adek gak usah lahiran normal ya?&#34;&#xA;&#xA;Haechan mendengus, &#34;Biaya operasi dan pemulihan mahal kak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, gapapa sayang. Demi kamu dan adek selamat keduanya. Kakak rela banting tulang sakit-sakitan cari uang demi kamu dan anak kita.&#34;&#xA;&#xA;Haechan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Mark, menggenggam kuat lengan sang suami.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa sih kak, Tuhan kasih kita cobaan kesulitan sekaligus? Aku gak kuat hiks...&#34;&#xA;&#xA;Mark mengusap punggung Haechan, &#34;Ssst! Bukan kesulitan, ini ujian dek. Kita saling berbohong menutupi keadaan masinh-masing, Tuhan gak mau itu. Dia ingin kita jujur satu sama lain, karena kakak butuh adek begitupula sebaliknya. Tuhan gak mau adek menyimpan sakit sendiri, adek harus berbagi sama kakak.&#34;&#xA;&#xA;Perlahan wajah Haechan menjauh, kepalanya naik menatap Mark. Jemarinya mengerangai wajah tampan sang suami masih tetap awet muda meski sedikit kurang terawat.&#xA;&#xA;&#34;Kalau begitu kakak juga harus berbagi senang dan sedih kakak ya sama adek? Kita saling butuh kak.&#34; Lanjut Haechan sambil matanya kebawah perut, sesekali mengelus perut buncitnya.&#xA;&#xA;Mark yang mendapati itu agak turun, dia mencium perut yang didalamnya terdapat buah hati. &#xA;&#xA;&#34;Tentu, maafin daddy ya, sayang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maafin papa juga, daddy.&#34;&#xA;&#xA;Kini terduanya tersenyum lebar karena suasana itu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>mahae fams • Trust Me (6.)</p>

<p>Akhirnya Mark menampilkan senyum tipis usai kembali membaca balasan suaminya. Mark memasukkan ponselnya ke saku, lalu bersandar pada kursi bus dan mengeratkan jaketnya karena bus malem sangat dingin ditambah lagi hujan diluar sana.</p>

<p>Terpaksa, pria yang hampir masuk usia paruh baya itu menaiki bus demi menghemat biaya bahan bakar terlebih lagi mobilnya sedang bermasalah di mesin terpaksa dia tinggalkan di garasi rumah saudaranya. Sebenarnya bisa saja Mark diberi pinjaman oleh sang ayah, tapi pria itu cukup gengsi lantasan proposal ajuan pencairan dana cabangnya masih ditolak. Terlebih lagi Mark yang pulang mendadak akan menimbulkan pertanyaan kepada sang ayah.</p>

<p>“Good Hell,” umpat Mark sambil memejamkan matanya mencoba istirahat sejenak dari beban pikiran yang dialami.</p>

<p>Bus malam melaju cepat hingga berada di perbatasan kota, Mark terbangun sejenak lalu mengecek jam di ponselnya yang menunjukkan dini hari.</p>

<p>Setelah sampai di terminal kotanya, Mark turun dari bus, memesan taksi online ke rumahnya. Dia merasa gugup menemui suami dan anak-anaknya.</p>

<p>Dia pun sampai, membuka pagar rumah dan pintu rumahnya.</p>

<p>“Daddy pulang,” Gumamnya agak pelan takut membangun anak kecilnya.</p>

<p>Terlihat di sopa, Chenle yang tidur dalam posisi duduk dengan sang adik, Ningning yang tertidur menggenggam selimut di bersandar di pundak sang abang.</p>

<p>Merasa kehadiran orang lain, Chenle terbangun dari tidurnya. Di hadapannya sang ayah berdiri.</p>

<p>“Daddy?”</p>

<p>“Bangun, Son. Sana lanjut tidur di kamar, bawa kakak juga.”</p>

<p>Ningning disampingnya ikut terbangun karena pembicaraan singkat itu.</p>

<p>“Hnhh, daddy???”</p>

<p>Mark mengusap pucuk kepala anak gadis tertuanya, “Lanjut tidur di kamar, kak.”</p>

<p>Mereka berdua menuruti perintah sang ayah lalu menuju ke kamar masing-masing meninggalkan Mark yang menghela nafas untuk masuk ke kamarnya pula.</p>

<p>Perlahan Mark buka pintunya, tak ingin membangunkan suaminya yang tertidur lelap. Mark menatap wajah sendu Haechan yang terlihat ada bekas air mata mengalir.</p>

<p>“Kakak...” Gumam Haechan membuka mata begitu menyadarkan diri akan atensi sang suami.</p>

<p>“Adek,” balas Mark. Dia ikut menempatkan tubuhnya diranjang. Mereka pun berhadapan satu sama lain.</p>

<p>Haechan tak kuasa menahan tangis, dia memeluk tubuh besar suaminya, menepis kemarahannya. Rindu, kesal, dan marah bagai terlarut dalam pelukan itu. Mark merasakan tubuh Haechan bergetar karena tangisnya yang cukup memilukan bagi Mark.</p>

<p>“K-kakak hiks—hiks..”</p>

<p>Mark memposisikan tubuh Haechan agar tidak terlalu menindih perut besarnya. Menenangkan tubuh suaminya yang rapuh itu.</p>

<p>Hingga Haechan lumayan tenang, Mark mulai angkat bicara.</p>

<p>“Sayang,”</p>

<p>“Iya, kak?”</p>

<p>“Kakak gak maksa, adek gak usah lahiran normal ya?”</p>

<p>Haechan mendengus, “Biaya operasi dan pemulihan mahal kak.”</p>

<p>“Iya, gapapa sayang. Demi kamu dan adek selamat keduanya. Kakak rela banting tulang sakit-sakitan cari uang demi kamu dan anak kita.”</p>

<p>Haechan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Mark, menggenggam kuat lengan sang suami.</p>

<p>“Kenapa sih kak, Tuhan kasih kita cobaan kesulitan sekaligus? Aku gak kuat hiks...”</p>

<p>Mark mengusap punggung Haechan, “Ssst! Bukan kesulitan, ini ujian dek. Kita saling berbohong menutupi keadaan masinh-masing, Tuhan gak mau itu. Dia ingin kita jujur satu sama lain, karena kakak butuh adek begitupula sebaliknya. Tuhan gak mau adek menyimpan sakit sendiri, adek harus berbagi sama kakak.”</p>

<p>Perlahan wajah Haechan menjauh, kepalanya naik menatap Mark. Jemarinya mengerangai wajah tampan sang suami masih tetap awet muda meski sedikit kurang terawat.</p>

<p>“Kalau begitu kakak juga harus berbagi senang dan sedih kakak ya sama adek? Kita saling butuh kak.” Lanjut Haechan sambil matanya kebawah perut, sesekali mengelus perut buncitnya.</p>

<p>Mark yang mendapati itu agak turun, dia mencium perut yang didalamnya terdapat buah hati.</p>

<p>“Tentu, maafin daddy ya, sayang.”</p>

<p>“Maafin papa juga, daddy.”</p>

<p>Kini terduanya tersenyum lebar karena suasana itu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gitayuta.writeas.com/mahae-fams-trust-me-6-nqsf</guid>
      <pubDate>Sun, 23 Jan 2022 15:51:44 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>