#MARKHYUCK local
🔞harap menjauh jika anda homophobic dan dibawah umur!🔞
••••••••••••••••••••••••••••••••••
Hardian segera menuruni ojek online yang dia pesan. Membayarnya secara cashless melalui aplikasi, lalu membawa tasnya yang penuh akan isi masuk ke daerah apartemen mahal di sudut kota.
Dia menaiki lift bersama beberapa orang hendak menuju ke lantai atas. Begitu sampai di lantai 10, Hardian turun sendiri lalu berjalan ke kompartemen 2Â tepatnya apart No 2.
Hardian sedikit ragu, dia takut dengan apa yang terjadi nantinya. Tapi mengingat keuangan keluarganya yang memburuk, membuat pemuda itu pasrah.
Dia menekan bel dan tak lama pria dewasa dengan wajah menawan membuka pintu apart hanya dengan bathrobe dan segelas anggur di tangannya.
“Dek Hardi, silahkan masuk.” Pria itu membuka pintunya lebar membiarkan Hardian masuk.
Dia masih menunduk menahan rona merah wajahnya melihat keadaan rektor muda kampusnya itu.
“Mau minum dulu dek?” tanyanya dengan tangan yang merangkul bahu Hardian dan nafasnya yang terhembus di area leher Hardian.
“A-anu nggak pak, makasih. Saya mau langsung saja bertemu sama pihak cabang bank-nya kalau boleh, hehe...” Balas Hardian masih berusaha sopan meskipun kalimatnya sedikit memaksa dengan posisinya yang hanya seorang mahasiswa dibandingkan Markus.
Markus— pria dewasa itu tampak gemas, menggigit sensual daun telinga kanan Hardian yang membuat Hardian bukan main merinding. Tangan Hardian mencoba mencegah itu dengan menjauhkan dirinya tapi sedih sekali, Hardian sudah cukup kelelahan hari ini karena jadwalnya yang sibuk jadi perlawanannya tak maksimal sehingga Markus mendominasi pergerakan.
Tangan Markus yang kekar membawa tas Hardian lepas dari punggungnya setelah itu dia menahan kedua tangan Hardian dan mencengkram keduanya dengan kuat agar tak mengganggunya untuk melumat bibir Hardian lebih dalam.
Hardian merasa ingin gila, apalagi saat tangan Markus mulai masuk ke kemejanya dan makin gila saat puting dadanya disentuh tanpa izin oleh tangan nakal itu.
“P-pak—hmm~!” Hardian berusaha menginterupsi jari-jemari Markus yang bermain di dadanya tapi sayang mulutnya dibungkam oleh lumatan Markus yang menjadi-jadi. Lidahnya memaksa masuk ke dalam mulut Hardian hingga dia dapat mengobservasi lebih dalam.
Saliva Hardian dan Markus bersatu, Markus merasakan bibir Hardian begitu memabukkan. Dia bahkan menggigit bibir bawahnya Hardian hingga terluka kecil agar mulut Hardian tetap terbuka.
“P-pak—stop!” pekik Hardian begitu mendapat jeda bernafas.
Markus menatap Hardian tajam, dia menghentikan segala aksinya dan melepaskan cengkaraman di tangan yang menahan tangan Hardian.
Hardian tak sanggup menatap Markus, dia menunduk dengan tangannya menutup mulutnya.
“B-bapak berjanji mau mempertemukan saya sama pihak bank biar uang saya cair d-dan juga bapak gak paham sama i-itu harusnya bapak ini—”
“Hm, sudah selesai ngomong dek?” Potong Markus dengan tangan yang menyilang di depan dadanya.
Hardian mengulum bibirnya, dia sendiri bingung dan pusing dalam satu keadaan karena tidak tau apa yang harus dia lakukan.
“Pak, s-saya—”
“Menemui pihak cabang juga pasti butuh biaya bukan? Seenggaknya anggap aja kamu ini lagi bayar biaya admin ke saya, paham?”
'ANJING ENAK AJE LU!' Umpat Hardian dalam batin.
Hardian sangat kesal, ini kedua kalinya Markus memperlakukan Hardian secara gampangan seperti 'orang-orang panggilan'. Markus benar-benar orang yang perhitungan, dia tidak mau rugi sedikit pun dan memilih menarik banyak keuntungan.
“Sudahlah, Pak. Kalau gitu mending saya pulang, bapak maunya begituan doang—ahh!” Hardian yang akan berbalik keluar menuju pintu tertahan karena Markus segara menarik tangannya, membawa Hardian masuk dan menghempaskan tubuh mahasiswa-nya itu ke sofa lebarnya.
“Jangan mempermainkan hormon saya, Hardian.” peringat Markus yang kesal karena miliknya di bawah sana sudah terguncang melawan gravitasi.
Hardian memekik saat Markus dengan paksa melepas jeans lalu boxernya. Tubuh bawah Haechan terpampang di hadapan Markus yang sudah kelaparan.
Markus mengikat kedua tangan Hardian dengan dasinya yang terletak di meja.
“Pak, sakit!” pekik Hardian saat Markus mengikat tangan itu begitu erat.
Markus tetap diam saat Hardian berteriak minta dilepas. Dia membuka lebar kaki Hardian sehingga terpampang lobang surga pemuda itu. Melakukan foreplay ringan yang mana hal itu membuat Hardian mengeluarkan umpatan karena rasa sakit.
“JANCOKKK—AKHH S-SAKITT~ UHHH!” Markus sebenarnya tidak mempermasalahkan itu malahan terdengar sexy baginya.
“Language, dek” nasihat Markus dengan tawanya.
'Salah sendiri punya lubang yang masih ketat, sakit kan?' batin Markus, awalnya dia mau bilang seperti itu langsung kepada Hardian tapi dia yakin akan mendapat tendangan di wajah seperti kemarin.
“Uhhh ahhh sakit hiks pelan-pelan~” Lirih Hardian saat kepala penis Markus tepat di depan lubangnya izin untuk masuk.
“CEPAT—AHH PLEASE PAK JANGAN AHH~ MAIN-MAIN IHHH~ UHHH~ BANGSATTT—HMMM!”
Bibir Hardian pun di bungkam oleh Markus yang gemas dengan lantunan kata-kata tak biasa dikeluarkan oleh seorang mahasiswa panutan seperti Hardian. Tapi jujur, Markus makin bergairah melihat Hardian yang begitu aktif berteriak karenanya.
“Hm— pak uhhh faster~!” Pinta Hardian di sela-sela lumatan. Markus tak langsung menurut dia menarik diri dari Hardian, yang mana membuat Hardian frustasi karena lubangnya yang gatal ingin dimasuki.
“Pak? Kok berhenti?!” Desak Hardian.
Markus menaikkan alisnya, “Terus?” padahal dia menahan tawa melihat Hardian yang dipengaruhi hormon frustasi karena tidak dipenuhi.
“Y-ya, bapak aja belum keluarin 'itu', lah saya udah! Ayo dong pak lagi masa saya sendiri!”
Hardian. Sudah. Benar-benar. Gila.
Markus sudah tak sanggup menahan tawanya. Dia mendekat memeluk Hardian dan mencium sekilas bibir manis.
“Okay, tapi jangan salahin saya kalo saya gak bisa berhenti ya dek?”
Haechan mengangguk, “Terserah bapak!”
Markus pun mulai melanjutkan permainannya yang sempat terhenti. Mereka bahkan mencoba banyak posisi hingga Hardian yang sudah berada di puncak stres-nya kelelahan dan jatuh dalam pelukan Markus.
Markus membawa Hardian ke kamarnya, meletakkan tubuh telanjang itu dan menyelimutinya. Mengulas senyum, Markus benar-benar jatuh dalam pesona dari mahasiswa-nya itu. Sampai-sampai Markus lupa untuk tidak mengeluarkannya di dalam.
“Cantik banget sih kamu dek, maaf ya saya nggak sengaja keluarin di dalam, hehe.” Markus pun mencuri kecupan singkat di bibir manis Hardian. Lalu bangkit menuju ranjang sebelah dan ikut tidur sambil memeluk pinggang Hardian.