The Proker • Bincang & Peluk (4.)

Haechan berjalan masuk ke caffe setelah membayar parkir motornya di depan.

'Baju Abu-abu sama beanie'

Dia membaca balasan pesannya, matanya segera mencari sosok yang dituju. Dia pun berjalan mendekati pemuda yang asik menikmati kopi sambil menatap di luar jendela.

“Halo, mas.” Sapa Haechan mengalihkan atensi milik pemuda itu.

Dia sedikit terkejut, sehingga membuat krim lattenya menempel, “Halo, Haechan. Duduk dulu.”

Haechan membalasnya 'oke' lalu mengambil posisi berhadapan dengannya.

“Udah lama, mas?”

Dibalas gelengan oleh pemuda, “Gak lama banget,” dia menatap Haechan dengan seksama, “lu baru bangun tidur?”

Haechan berjengit, “Eh? Keliatan ya mas?”

“Iya, wkwk. Lain kali gak usah buru-buru banget ya, lucu banget lu keluar masih belekan gini.” Tangan Mark bantu membersihkan kotoran mata Haechan dengan tisu yang ada di kantongnya.

Sementara itu Haechan termenung, agak kikuk rasanya.

“E-eh, makasih mas.”

“Santai.”

Mereka berdua pun duduk di tempatnya masing-masing. Haechan dengan ponsel dan kepura-puraannya dan Mark yang menatapnya sambil sesekali meneguk minuman.

Sebenarnya Haechan salah tingkah ditatap seperti itu padahal biasanya tidak. Aura Mark begitu kuat sehingga membuat dirinya kaku.

“Lo anak organisasi?” Tanya Mark memecah keheningan.

“Bisa dibilang, tapi saya sendiri mau coba magang atau KP* tahun depan.”

*Kerja Praktek

“Wow, bagus banget udah ada rencana.”

Haechan terkekeh kecil, “Organisasi ga cukup sih mas buat kerja, saya realistis aja orangnya. Jadi mau cari pengalaman kerja dulu.”

Mark setuju mengangguk, “Bener. Tapi kenapa ga coba asisten praktikum?”

“Aduh, ketolak terus mas. Saingan berat banget.”

Mark meletakkan cangkir kopinya, “Lo salah pilih praktikum kali wkwk. Kalau mau coba aja daftar di lab gw, nanti bisa gw bantu.”

“Haha mas bisa aja, makasih loh mas.”

“Dipikirin aja— Wei Jamal! Baru datang lu.” Ucapan Mark terhenti saat kehadiran Jamal diikuti oleh Dery.

Mereka pun berbincang mengenai proker lebih dalam. Membuat jobdesk dan penentuan tanggal dengan jadwal alumni yang Mark miliki.

Sesekali Mark mencuri pandang, sedangkan Haechan sedikit merasa risih oleh tingkah pemuda itu.

Tak lama, bahasan pun makin mencair. Jamal, Dery, dan Haechan mulai menghisap vape mereka masing-masing. Lain hal dengan Mark yang bukan perokok elektrik itu.

“Btw, gw boleh nebeng gak? Motor masuk rumah sakit haha, lagi penghematan juga gw.” cetus Mark.

“Duh, gw kesini bareng Dery, Mark. Lu sama Haechan aja, lu bawa motor kan Chan?”

Haechan mau tak mau mengiyakan, bagaimana pun Mark adalah katingnya meski orang ini cukup aneh baginya.

“Boleh, bang.”

Setelahnya keempat mereka pun keluar menuju parkiran.

“Duluan, Mark Haechan!” pamit Jamal dan Dery berbarengan.

Sekarang tinggalah dua sejoli itu.

“Mas mau bawa motor?”

“Boleh?”

“Iya, mas. Aku takut jatuh kalo boncengin cowok.”

Mark menoleh dengan smirknya, “Seriusan apa lu cuma mau boncengin cewek aja, Chan?” dilanjuti dengan tawa Mark.

Haechan menatap kesal kepada pemuda itu, sepertinya dia tak sadar diri dengan badannya yang besar itu meskipun tinggi mereka tidak beda jauh. Haechan takut jika tidak bisa mengontrol motor nya jika membonceng badan besar Mark, trauma sempat membonceng bapaknya.

“Badan mas itulohhh! Aku takut nanti kita jatuh kalo aku bawa.” jawab Haechan setengah marah, karena tingkah pemuda ini mulai mengesalkan.

“Iyadeh, mana kunci.”

Dia memberikan kunci motor, lalu membiarkan Mark mengeluarkan motornya.

“Udah?” tanya Mark, begitu Haechan duduk.

“Ya,”

Mark menarik tangan Haechan untuk memeluk perutnya.

“Eh?”

“Takut lu jatuh nanti, pegangan ya.”

Iya melajukan motor, meninggalkan cafe sedangkan tangan Haechan keduanya telah berada untuk memeluk Mark dari belakang karena ternyata laki-laki itu cukup gila saat mengemudi.

“Pelan-pelan, mas!”