gitayuta

author 1000 purnama

mahae fams • Qtime (7. End)

⚠️ Warning! bit 17+ ⚠️

Haechan menatap suaminya itu, lantunan nada disertai lirik begitu membuai. Terlebih lagi, pria itu menyanyikan salah satu lagu yang cukup Haechan sukai.

Your hand fits in mine like it's made just for me But bear this mind, it was meant to be And I'm joining up the dots with the freckles on your cheeks And it all makes sense to me

Tangan Haechan sangat pas saat berada di genggaman Mark, pria itu sangat suka mencium punggung tangan Haechan yang bagai sudah ditakdirkan untuknya. Wajah pria yang lebih muda itu memerah, membuat kontras antara tahilalatnya yang membentuk simbol bintang.

I know you've never loved The crinkles by your eyes when you smile You've never loved your stomach or your thighs The dimples in your back at the bottom of your spine But I'll love them endlessly

Jujur saja semenjak dikehamilan anak pertamanya, Haechan mengalami shock karena perut dan pahanya yang melebar. Terlebih lagi saat melahirkan, pria itu mengalami baby blues yang membuat tubuhnya tak terawat akibat tekanan yang dia rasakan. Kerutan di mata Haechan makin terlihat, terbentuk jelas apabila ia mulai tersenyum lebar. Jujur Haechan tidak menyukai semua hal itu, tapi Mark, suaminya tercinta meyakinkan Haechan bahwa hal itu normal dan baik-baik saja.

I won't let these little things slip out of my mouth But if I do, it's you Oh, it's you, they add up to I'm in love with you And all these little things

Mungkin Mark terlihat jarang memuji suami manisnya itu seperti pasangan lain, apalagi saat mereka di depan publik. Tapi jika itu terjadi, mungkin Mark tersihir oleh keistimewaan Haechan dan Mark selalu suka hal-hal kecil yang ada pada pribadi itu.

You can't go to bed without a cup of tea And maybe that's the reason that you talk in your sleep And all those conversations are the secrets that I keep Though it makes no sense to me

Kebiasaan Haechan sebelum tidur : minum secangkir teh. Seringkali jika dia melupakan kebiasaan itu dia akan merengek dalam igauannya ataupun berbicara tidak jelas. Mark selalu tertawa gemas sambil mengatakan hal itu pada Haechan, dan itu membuat hati Mark menghangat.

I know you never loved the sound of your voice on tape You never want to know how much you weight You still have to squeeze into your jeans But you're perfect to me

Haechan sangat malu jika dia bernyanyi direkam atau dia akan mendiamkan oknum itu selama seminggu. Tidak pernah ingin tau berapa berat badannya terlebih saat sesudah melahirkan, agak sulit bagi Haechan untuk memperbaiki berat badan sesuai idealnya karena kesibukan untuk rumah, anak dan suaminya. Kadang dia masih berharap mencoba pakaiannya saat kuliah dulu muat, tapi tetap saja mengecewakan. Mark yang melihat wajah murung itu hanya menenangkan suaminya dan mengatakan dirinya selalu sempurna mengenakan apapun.

I won't let these little things slip out of my mouth But if it's true, it's you It's you, they add up to I'm in love with you And all these little things

You'll never love yourself half as much as I love you And you'll never treat yourself right darling, but I want you to If I let you know, I'm here for you Maybe you'll love yourself like I love you, oh

Ya, Haechan sulit mencintai dirinya sepenuh hati bagai Mark mencintai suaminya itu. Kadang Haechan jarang memperlakukan dirinya baik terlebih dengan kesibukannya apalagi saat hamil begini Haechan tetap harus siap siaga untuk anak-anak mereka. Terkadang Mark meminta suaminya itu untuk memperlakukan dirinya baik dan tidak selalu membiarkan dirinya membereskan pekerjaan melelahkan itu setiap saat. Mark ada. Anak-anak mereka pun ada untuk membantu sang ayah.

And I've just let these little things slip out of my mouth 'Cause it's you, oh, it's you It's you, they add up to And I'm in love with you And all these little things

Sekarang biarkan Mark untuk berkata lantang dengan syair yang dia nyanyikan dihadapan suaminya yang menatapnya dengan air mata yang tiba-tiba seiring lagu bercucuran.

Haechan, kamu indah. Kamu luarbiasa, kamu hebat, kamu kuat, meskipun terkadang kamu rapuh dan terlihat putus asa tapi dirimu istimewa dimataku, Mark, suamimu.

Jangan merasa kamu kurang menarik karena menua, karena aku mencintaimu sepenuh jiwa dan raga. Aku memang jatuh pada parasmu di awal kita berjumpa, tapi dirimu yang sesungguhnya adalah yang aku inginkan. Biar kata dunia kamu buruk, tapi hatimu yang kusuka. Tetaplah menjadi Haechan-ku, ketidaksempurnaan dirimu adalah hal yang sempurna.

Haechan, suamiku... Aku mencintaimu.

Mark lanjut menggenjreng gitarnya dengan nada sembarang menutupi sesegukan tangis suaminya yang akhirnya keluar. Haechan bangkit dari tempat tidur perlahan lalu menuju ke toilet untuk menenangkan diri dan menghapus air matanya.

Beberapa menit kemudian, Haechan kembali ke kamar mereka.

“Kak, udahan?” tanya pria manis itu.

Mark menoleh, tersenyum kecil sambil meletakkan gitarnya di sebelah ranjang. Mark melebarkan tangannya, mengisyaratkan suami kecilnya untuk masuk ke dalam pelukan. Haechan pun berjalan menghamburkan pelukannya.

Ahh, hormon kehamilan makin membuatnya menjadi emosional sekarang.

Mark memgendurkan pelukan mereka menatap wajah mungil suaminya.

“Adek,”

“I-iya kak,”

“Kamu jangan sedih karena merasa kurang cantik ya, sayang? Semua yang ketidaksempurnaan adek adalah hal yang sempurna di mata kakak. Adek tetap menjadi adek yang kakak kenal dari dulu hingga sekarang. Kamu yang ceria, cerewet dan peduli. Kakak suka adek yang riang, tapi nggak masalah semisal adek sedih tapi ingat pesan kakak, jangan pernah sedih karena adek gak menarik. Adek hanya dan satu-satunya yang kakak cinta, Lee Haechan.”

“K-kakak hiks—hmph”

Mark membawa suaminya dalam ciuman hangat, dia menikmati waktu ini yang terasa amat sangat lama dia kenang.

“Adek, kakak 'boleh'?” izin Mark kepada Haechan saat tangan pria itu akan beralih membuka kancing bajunya.

“U-ukh? I-iya, pelan-pelan ya, kak.” jawab Haechan dengan wajahnya yang memerah.

“Cantik.” Puji Mark, sebelum lanjut mengulum bibir madu itu.

Pertukaran saliva terjadi. Desahan pria yang lebih muda terdengar, menikmati permainan suaminya. Haechan membiarkan tiap inchi tubuhnya dibelai, memenuhi hasratnya yang terpendam.

“K-kakakkk—ahh~” Desah Haechan yang merupakan pertanda bahwa permainan telah usai.

Mark membaringkan tubuhnya di sebelah sang suami, menyelimuti tubuh mereka.

Haechan yang kelemahan menampilkan senyumnya, mengelus wajah Mark yang terasa bulu-bulu halus yang baru dicukur.

“Daddy udah ketemu sama dedek duluan~” Ujar Haechan ringkih sebelum kehilangan kesadaran karena keletihan.

Pria itu pun mengusap pucuk kepala Haechan, mengecup keningnya lalu memeluk tubuh sang suami.

mahae fams • Qtime (5.)

“Bang,”

“Iya, Jen?”

Jeno menunjukan layar ponselnya kepada Mark.

“Liat bini lu, nih.”

Mark membaca tweetan itu dengan seksama. Menghela nafas, “Haechan makin sensitif kalo gue tinggal pergi gini,  padahal bentar.”

“Wkwkwk, aelah bang. Sabar aja, laki emang gitu di mata bini apalagi kalo hamil muda gini. Lu mending, lah Nana—”

“Apanih bawa-bawa nama gue?” Kejut lelaki yang lebih muda dengan surai pirang membawa nampan yang berisi dua kopi hitam.

Jeno cengengesan melihat suaminya itu, “Nggak, beb.”

Nana— Jaemin memutar bola matanya jemgah, lalu menatap sang kakak ipar.

“Minum dulu bang sebelum pulang. Si Haechan lagi anti bau kopi kan di rumah?”

Mark mengangguk, sambil meminum kopi tersebut.

“Kasian banget abang gue, wkwk.”

“Na, Jen, gue pamit dulu. Titip Shuyu ya, kalau anaknya bandel jejelin aja semangka. Pamit ya, bini gue makin kangen nih, misi!”

“Hati-hati, bang!”

Pamit Mark meninggalkan rumah sang adik.

•••

Mark membuka pintu kamarnya, “Sayang?” Matanya tertuju pada seseorang yang berada dibalik selimut.

“Adek...” Panggil Mark agak pelan, memastikan suaminya masih terjaga atau tidak. Mark merasakan basah disekitar wajah sang suami.

'Adek nangis?' Batin Mark bertanya.

“Maafin kakak sayang, akhir-akhir ini sibuk sama kerjaan jadi kita jarang ada waktu berdua.” Gumam Mark pelan, mengusap wajah Haechan.

Menghela nafas, Mark melepas bajunya hendak mengganti dengan kaos rumahan.

“Kakak...” Suara itu menghentikan tangannya mencari kaos miliknya.

“Adek?”

“Kesini,” pinta Haechan dengan suara lirih. Mark bersegera mendekat dengan keadaan telanjang dada.

Haechan menghambur ke dalam pelukan prianya itu.

“Adek rindu kakak,” Mark mengelus pelan punggung ringkih itu.

Semenjak hamil, Haechan agak sensitif dan cenderung tak bisa menahan emosi yang ia luapkan di depan suaminya.

“Iya sayang, kakak juga sayang adek. Maafin ya akhir-akhir ini kita jarang berdua.” Pinta Mark yang dibalas anggukan oleh Haechan yang masih berada di pelukan sang suami.

Mereka melepaskan pelukan sejenak, Haechan menggigit bibirnya.

Mark yang paham bertanya sembari tangannya menyisihkan rambut halus Haechan ke belakang telinga.

“Kenapa, hm?”

“Adek mau 'kakak'.” Jawab Haechan.

Pria yang lebih tua membolakan matanya, agak kaget mendengar kata itu. Tapi Mark, tetap adalah bapak-bapak aplikasi Wh*tsApp, iya nyebelin.

“Heee tumben banget adek mau nih,” balas Mark dengan ekspresi menyebalkan.

Wajah Haechan memerah, “Yaudah kalau gak mau adek mau lanjut tidur!”

“Eh, eh adek!”

Haechan yang ditahan tidur pun menatap suaminya tajam, “Hm?”

Mark mengelus pipi gembul itu, “Inget gak kata dokter kemaren? Hamil muda rentan banget kalau kita begitu. Kakak takut nanti dedek malah nendang titit kakak di dalem.”

Haechan tak kuasa untuk menyemburkan tawa, suaminya ini makin menjadi bapak-bapak jokesnya bertambah dan makin pintar sekali membuat candaan untuk membalikkan moodnya.

“Haha iya dehhh~ tapi adek mau dimanja sama kakak pokoknya.”

“Wait,” Mark beranjak dari ranjang, mengambil gitarnya yang sengaja diletakkan di ujung sebelah lemari

“Kakak mau—”

“Busking. Adek suka kan? Jaman kita pacaran suka begini kalo ketemu, haha.”

Itu kan! Liat wajah Haechan sekarang makin memerah, dia malu sekali dengan suami ini yang sangat paham tentangnya.

“Kakak mah!”

“Sambil live instagram ya dek?”

“Heh! Kakak pake baju dulu dong, auratnya kakak buat adek doang itu! Enak aja dijadiin konsumsi publik.”

Duh, suaminya ini bisa dimakan gak sih? Haechan terlihat seperti mochi stoberi kalau lagi ngamuk begini.

“Haha, nggak dek. Nanti screennya hitam aja kok, aman aurat kakak buat adek aja.”

Haechan sudah keburu kesal, “Terserah deh, adek gak mau ikut nyanyi tapi!”

“Iya deh, tapi kalau mau ikut nanti gapapa soalnya lagunya yang adek suka semua.”

🔞harap menjauh jika anda homophobic dan dibawah umur!🔞

Hardian segera menuruni ojek online yang dia pesan. Membayarnya secara cashless melalui aplikasi, lalu membawa tasnya yang penuh akan isi masuk ke daerah apartemen mahal di sudut kota.

Dia menaiki lift bersama beberapa orang hendak menuju ke lantai atas. Begitu sampai di lantai 10, Hardian turun sendiri lalu berjalan ke kompartemen 2 tepatnya apart No 2.

Hardian sedikit ragu, dia takut dengan apa yang terjadi nantinya. Tapi mengingat keuangan keluarganya yang memburuk, membuat pemuda itu pasrah.

Dia menekan bel dan tak lama pria dewasa dengan wajah menawan membuka pintu apart hanya dengan bathrobe dan segelas anggur di tangannya.

“Dek Hardi, silahkan masuk.” Pria itu membuka pintunya lebar membiarkan Hardian masuk.

Dia masih menunduk menahan rona merah wajahnya melihat keadaan rektor muda kampusnya itu.

“Mau minum dulu dek?” tanyanya dengan tangan yang merangkul bahu Hardian dan nafasnya yang terhembus di area leher Hardian.

“A-anu nggak pak, makasih. Saya mau langsung saja bertemu sama pihak cabang bank-nya kalau boleh, hehe...” Balas Hardian masih berusaha sopan meskipun kalimatnya sedikit memaksa dengan posisinya yang hanya seorang mahasiswa dibandingkan Markus.

Markus— pria dewasa itu tampak gemas, menggigit sensual daun telinga kanan Hardian yang membuat Hardian bukan main merinding. Tangan Hardian mencoba mencegah itu dengan menjauhkan dirinya tapi sedih sekali, Hardian sudah cukup kelelahan hari ini karena jadwalnya yang sibuk jadi perlawanannya tak maksimal sehingga Markus mendominasi pergerakan.

Tangan Markus yang kekar membawa tas Hardian lepas dari punggungnya setelah itu dia menahan kedua tangan Hardian dan mencengkram keduanya dengan kuat agar tak mengganggunya untuk melumat bibir Hardian lebih dalam.

Hardian merasa ingin gila, apalagi saat tangan Markus mulai masuk ke kemejanya dan makin gila saat puting dadanya disentuh tanpa izin oleh tangan nakal itu.

“P-pak—hmm~!” Hardian berusaha menginterupsi jari-jemari Markus yang bermain di dadanya tapi sayang mulutnya dibungkam oleh lumatan Markus yang menjadi-jadi. Lidahnya memaksa masuk ke dalam mulut Hardian hingga dia dapat mengobservasi lebih dalam.

Saliva Hardian dan Markus bersatu, Markus merasakan bibir Hardian begitu memabukkan. Dia bahkan menggigit bibir bawahnya Hardian hingga terluka kecil agar mulut Hardian tetap terbuka.

“P-pak—stop!” pekik Hardian begitu mendapat jeda bernafas.

Markus menatap Hardian tajam, dia menghentikan segala aksinya dan melepaskan cengkaraman di tangan yang menahan tangan Hardian.

Hardian tak sanggup menatap Markus, dia menunduk dengan tangannya menutup mulutnya.

“B-bapak berjanji mau mempertemukan saya sama pihak bank biar uang saya cair d-dan juga bapak gak paham sama i-itu harusnya bapak ini—”

“Hm, sudah selesai ngomong dek?” Potong Markus dengan tangan yang menyilang di depan dadanya.

Hardian mengulum bibirnya, dia sendiri bingung dan pusing dalam satu keadaan karena tidak tau apa yang harus dia lakukan.

“Pak, s-saya—”

“Menemui pihak cabang juga pasti butuh biaya bukan? Seenggaknya anggap aja kamu ini lagi bayar biaya admin ke saya, paham?”

'ANJING ENAK AJE LU!' Umpat Hardian dalam batin.

Hardian sangat kesal, ini kedua kalinya Markus memperlakukan Hardian secara gampangan seperti 'orang-orang panggilan'. Markus benar-benar orang yang perhitungan, dia tidak mau rugi sedikit pun dan memilih menarik banyak keuntungan.

“Sudahlah, Pak. Kalau gitu mending saya pulang, bapak maunya begituan doang—ahh!” Hardian yang akan berbalik keluar menuju pintu tertahan karena Markus segara menarik tangannya, membawa Hardian masuk dan menghempaskan tubuh mahasiswa-nya itu ke sofa lebarnya.

“Jangan mempermainkan hormon saya, Hardian.” peringat Markus yang kesal karena miliknya di bawah sana sudah terguncang melawan gravitasi.

Hardian memekik saat Markus dengan paksa melepas jeans lalu boxernya. Tubuh bawah Haechan terpampang di hadapan Markus yang sudah kelaparan.

Markus mengikat kedua tangan Hardian dengan dasinya yang terletak di meja.

“Pak, sakit!” pekik Hardian saat Markus mengikat tangan itu begitu erat.

Markus tetap diam saat Hardian berteriak minta dilepas. Dia membuka lebar kaki Hardian sehingga terpampang lobang surga pemuda itu. Melakukan foreplay ringan yang mana hal itu membuat Hardian mengeluarkan umpatan karena rasa sakit.

“JANCOKKK—AKHH S-SAKITT~ UHHH!” Markus sebenarnya tidak mempermasalahkan itu malahan terdengar sexy baginya.

“Language, dek” nasihat Markus dengan tawanya.

'Salah sendiri punya lubang yang masih ketat, sakit kan?' batin Markus, awalnya dia mau bilang seperti itu langsung kepada Hardian tapi dia yakin akan mendapat tendangan di wajah seperti kemarin.

“Uhhh ahhh sakit hiks pelan-pelan~” Lirih Hardian saat kepala penis Markus tepat di depan lubangnya izin untuk masuk.

“CEPAT—AHH PLEASE PAK JANGAN AHH~ MAIN-MAIN IHHH~ UHHH~ BANGSATTT—HMMM!”

Bibir Hardian pun di bungkam oleh Markus yang gemas dengan lantunan kata-kata tak biasa dikeluarkan oleh seorang mahasiswa panutan seperti Hardian. Tapi jujur, Markus makin bergairah melihat Hardian yang begitu aktif berteriak karenanya.

“Hm— pak uhhh faster~!” Pinta Hardian di sela-sela lumatan. Markus tak langsung menurut dia menarik diri dari Hardian, yang mana membuat Hardian frustasi karena lubangnya yang gatal ingin dimasuki.

“Pak? Kok berhenti?!” Desak Hardian.

Markus menaikkan alisnya, “Terus?” padahal dia menahan tawa melihat Hardian yang dipengaruhi hormon frustasi karena tidak dipenuhi.

“Y-ya, bapak aja belum keluarin 'itu', lah saya udah! Ayo dong pak lagi masa saya sendiri!”

Hardian. Sudah. Benar-benar. Gila.

Markus sudah tak sanggup menahan tawanya. Dia mendekat memeluk Hardian dan mencium sekilas bibir manis.

“Okay, tapi jangan salahin saya kalo saya gak bisa berhenti ya dek?”

Haechan mengangguk, “Terserah bapak!”

Markus pun mulai melanjutkan permainannya yang sempat terhenti. Mereka bahkan mencoba banyak posisi hingga Hardian yang sudah berada di puncak stres-nya kelelahan dan jatuh dalam pelukan Markus.

Markus membawa Hardian ke kamarnya, meletakkan tubuh telanjang itu dan menyelimutinya. Mengulas senyum, Markus benar-benar jatuh dalam pesona dari mahasiswa-nya itu. Sampai-sampai Markus lupa untuk tidak mengeluarkannya di dalam.

“Cantik banget sih kamu dek, maaf ya saya nggak sengaja keluarin di dalam, hehe.” Markus pun mencuri kecupan singkat di bibir manis Hardian. Lalu bangkit menuju ranjang sebelah dan ikut tidur sambil memeluk pinggang Hardian.

#MARKHYUCK local

🔞harap menjauh jika anda homophobic dan dibawah umur!🔞

••••••••••••••••••••••••••••••••••

Hardian segera menuruni ojek online yang dia pesan. Membayarnya secara cashless melalui aplikasi, lalu membawa tasnya yang penuh akan isi masuk ke daerah apartemen mahal di sudut kota.

Dia menaiki lift bersama beberapa orang hendak menuju ke lantai atas. Begitu sampai di lantai 10, Hardian turun sendiri lalu berjalan ke kompartemen 2 tepatnya apart No 2.

Hardian sedikit ragu, dia takut dengan apa yang terjadi nantinya. Tapi mengingat keuangan keluarganya yang memburuk, membuat pemuda itu pasrah.

Dia menekan bel dan tak lama pria dewasa dengan wajah menawan membuka pintu apart hanya dengan bathrobe dan segelas anggur di tangannya.

“Dek Hardi, silahkan masuk.” Pria itu membuka pintunya lebar membiarkan Hardian masuk.

Dia masih menunduk menahan rona merah wajahnya melihat keadaan rektor muda kampusnya itu.

“Mau minum dulu dek?” tanyanya dengan tangan yang merangkul bahu Hardian dan nafasnya yang terhembus di area leher Hardian.

“A-anu nggak pak, makasih. Saya mau langsung saja bertemu sama pihak cabang bank-nya kalau boleh, hehe...” Balas Hardian masih berusaha sopan meskipun kalimatnya sedikit memaksa dengan posisinya yang hanya seorang mahasiswa dibandingkan Markus.

Markus— pria dewasa itu tampak gemas, menggigit sensual daun telinga kanan Hardian yang membuat Hardian bukan main merinding. Tangan Hardian mencoba mencegah itu dengan menjauhkan dirinya tapi sedih sekali, Hardian sudah cukup kelelahan hari ini karena jadwalnya yang sibuk jadi perlawanannya tak maksimal sehingga Markus mendominasi pergerakan.

Tangan Markus yang kekar membawa tas Hardian lepas dari punggungnya setelah itu dia menahan kedua tangan Hardian dan mencengkram keduanya dengan kuat agar tak mengganggunya untuk melumat bibir Hardian lebih dalam.

Hardian merasa ingin gila, apalagi saat tangan Markus mulai masuk ke kemejanya dan makin gila saat puting dadanya disentuh tanpa izin oleh tangan nakal itu.

“P-pak—hmm~!” Hardian berusaha menginterupsi jari-jemari Markus yang bermain di dadanya tapi sayang mulutnya dibungkam oleh lumatan Markus yang menjadi-jadi. Lidahnya memaksa masuk ke dalam mulut Hardian hingga dia dapat mengobservasi lebih dalam.

Saliva Hardian dan Markus bersatu, Markus merasakan bibir Hardian begitu memabukkan. Dia bahkan menggigit bibir bawahnya Hardian hingga terluka kecil agar mulut Hardian tetap terbuka.

“P-pak—stop!” pekik Hardian begitu mendapat jeda bernafas.

Markus menatap Hardian tajam, dia menghentikan segala aksinya dan melepaskan cengkaraman di tangan yang menahan tangan Hardian.

Hardian tak sanggup menatap Markus, dia menunduk dengan tangannya menutup mulutnya.

“B-bapak berjanji mau mempertemukan saya sama pihak bank biar uang saya cair d-dan juga bapak gak paham sama i-itu harusnya bapak ini—”

“Hm, sudah selesai ngomong dek?” Potong Markus dengan tangan yang menyilang di depan dadanya.

Hardian mengulum bibirnya, dia sendiri bingung dan pusing dalam satu keadaan karena tidak tau apa yang harus dia lakukan.

“Pak, s-saya—”

“Menemui pihak cabang juga pasti butuh biaya bukan? Seenggaknya anggap aja kamu ini lagi bayar biaya admin ke saya, paham?”

'ANJING ENAK AJE LU!' Umpat Hardian dalam batin.

Hardian sangat kesal, ini kedua kalinya Markus memperlakukan Hardian secara gampangan seperti 'orang-orang panggilan'. Markus benar-benar orang yang perhitungan, dia tidak mau rugi sedikit pun dan memilih menarik banyak keuntungan.

“Sudahlah, Pak. Kalau gitu mending saya pulang, bapak maunya begituan doang—ahh!” Hardian yang akan berbalik keluar menuju pintu tertahan karena Markus segara menarik tangannya, membawa Hardian masuk dan menghempaskan tubuh mahasiswa-nya itu ke sofa lebarnya.

“Jangan mempermainkan hormon saya, Hardian.” peringat Markus yang kesal karena miliknya di bawah sana sudah terguncang melawan gravitasi.

Hardian memekik saat Markus dengan paksa melepas jeans lalu boxernya. Tubuh bawah Haechan terpampang di hadapan Markus yang sudah kelaparan.

Markus mengikat kedua tangan Hardian dengan dasinya yang terletak di meja.

“Pak, sakit!” pekik Hardian saat Markus mengikat tangan itu begitu erat.

Markus tetap diam saat Hardian berteriak minta dilepas. Dia membuka lebar kaki Hardian sehingga terpampang lobang surga pemuda itu. Melakukan foreplay ringan yang mana hal itu membuat Hardian mengeluarkan umpatan karena rasa sakit.

“JANCOKKK—AKHH S-SAKITT~ UHHH!” Markus sebenarnya tidak mempermasalahkan itu malahan terdengar sexy baginya.

“Language, dek” nasihat Markus dengan tawanya.

'Salah sendiri punya lubang yang masih ketat, sakit kan?' batin Markus, awalnya dia mau bilang seperti itu langsung kepada Hardian tapi dia yakin akan mendapat tendangan di wajah seperti kemarin.

“Uhhh ahhh sakit hiks pelan-pelan~” Lirih Hardian saat kepala penis Markus tepat di depan lubangnya izin untuk masuk.

“CEPAT—AHH PLEASE PAK JANGAN AHH~ MAIN-MAIN IHHH~ UHHH~ BANGSATTT—HMMM!”

Bibir Hardian pun di bungkam oleh Markus yang gemas dengan lantunan kata-kata tak biasa dikeluarkan oleh seorang mahasiswa panutan seperti Hardian. Tapi jujur, Markus makin bergairah melihat Hardian yang begitu aktif berteriak karenanya.

“Hm— pak uhhh faster~!” Pinta Hardian di sela-sela lumatan. Markus tak langsung menurut dia menarik diri dari Hardian, yang mana membuat Hardian frustasi karena lubangnya yang gatal ingin dimasuki.

“Pak? Kok berhenti?!” Desak Hardian.

Markus menaikkan alisnya, “Terus?” padahal dia menahan tawa melihat Hardian yang dipengaruhi hormon frustasi karena tidak dipenuhi.

“Y-ya, bapak aja belum keluarin 'itu', lah saya udah! Ayo dong pak lagi masa saya sendiri!”

Hardian. Sudah. Benar-benar. Gila.

Markus sudah tak sanggup menahan tawanya. Dia mendekat memeluk Hardian dan mencium sekilas bibir manis.

“Okay, tapi jangan salahin saya kalo saya gak bisa berhenti ya dek?”

Haechan mengangguk, “Terserah bapak!”

Markus pun mulai melanjutkan permainannya yang sempat terhenti. Mereka bahkan mencoba banyak posisi hingga Hardian yang sudah berada di puncak stres-nya kelelahan dan jatuh dalam pelukan Markus.

Markus membawa Hardian ke kamarnya, meletakkan tubuh telanjang itu dan menyelimutinya. Mengulas senyum, Markus benar-benar jatuh dalam pesona dari mahasiswa-nya itu. Sampai-sampai Markus lupa untuk tidak mengeluarkannya di dalam.

“Cantik banget sih kamu dek, maaf ya saya nggak sengaja keluarin di dalam, hehe.” Markus pun mencuri kecupan singkat di bibir manis Hardian. Lalu bangkit menuju ranjang sebelah dan ikut tidur sambil memeluk pinggang Hardian.

🔞harap menjauh jika anda homophobic dan dibawah umur!🔞

Hardian segera menuruni ojek online yang dia pesan. Membayarnya secara cashless melalui aplikasi, lalu membawa tasnya yang penuh akan isi masuk ke daerah apartemen mahal di sudut kota.

Dia menaiki lift bersama beberapa orang hendak menuju ke lantai atas. Begitu sampai di lantai 10, Hardian turun sendiri lalu berjalan ke kompartemen 2 tepatnya apart No 2.

Hardian sedikit ragu, dia takut dengan apa yang terjadi nantinya. Tapi mengingat keuangan keluarganya yang memburuk, membuat pemuda itu pasrah.

Dia menekan bel dan tak lama pria dewasa dengan wajah menawan membuka pintu apart hanya dengan bathrobe dan segelas anggur di tangannya.

“Dek Hardi, silahkan masuk.” Pria itu membuka pintunya lebar membiarkan Hardian masuk.

Dia masih menunduk menahan rona merah wajahnya melihat keadaan rektor muda kampusnya itu.

“Mau minum dulu dek?” tanyanya dengan tangan yang merangkul bahu Hardian dan nafasnya yang terhembus di area leher Hardian.

“A-anu nggak pak, makasih. Saya mau langsung saja bertemu sama pihak cabang bank-nya kalau boleh, hehe...” Balas Hardian masih berusaha sopan meskipun kalimatnya sedikit memaksa dengan posisinya yang hanya seorang mahasiswa dibandingkan Markus.

Markus— pria dewasa itu tampak gemas, menggigit sensual daun telinga kanan Hardian yang membuat Hardian bukan main merinding. Tangan Hardian mencoba mencegah itu dengan menjauhkan dirinya tapi sedih sekali, Hardian sudah cukup kelelahan hari ini karena jadwalnya yang sibuk jadi perlawanannya tak maksimal sehingga Markus mendominasi pergerakan.

Tangan Markus yang kekar membawa tas Hardian lepas dari punggungnya setelah itu dia menahan kedua tangan Hardian dan mencengkram keduanya dengan kuat agar tak mengganggunya untuk melumat bibir Hardian lebih dalam.

Hardian merasa ingin gila, apalagi saat tangan Markus mulai masuk ke kemejanya dan makin gila saat puting dadanya disentuh tanpa izin oleh tangan nakal itu.

“P-pak—hmm~!” Hardian berusaha menginterupsi jari-jemari Markus yang bermain di dadanya tapi sayang mulutnya dibungkam oleh lumatan Markus yang menjadi-jadi. Lidahnya memaksa masuk ke dalam mulut Hardian hingga dia dapat mengobservasi lebih dalam.

Saliva Hardian dan Markus bersatu, Markus merasakan bibir Hardian begitu memabukkan. Dia bahkan menggigit bibir bawahnya Hardian hingga terluka kecil agar mulut Hardian tetap terbuka.

“P-pak—stop!” pekik Hardian begitu mendapat jeda bernafas.

Markus menatap Hardian tajam, dia menghentikan segala aksinya dan melepaskan cengkaraman di tangan yang menahan tangan Hardian.

Hardian tak sanggup menatap Markus, dia menunduk dengan tangannya menutup mulutnya.

“B-bapak berjanji mau mempertemukan saya sama pihak bank biar uang saya cair d-dan juga bapak gak paham sama i-itu harusnya bapak ini—”

“Hm, sudah selesai ngomong dek?” Potong Markus dengan tangan yang menyilang di depan dadanya.

Hardian mengulum bibirnya, dia sendiri bingung dan pusing dalam satu keadaan karena tidak tau apa yang harus dia lakukan.

“Pak, s-saya—”

“Menemui pihak cabang juga pasti butuh biaya bukan? Seenggaknya anggap aja kamu ini lagi bayar biaya admin ke saya, paham?”

'ANJING ENAK AJE LU!' Umpat Hardian dalam batin.

Hardian sangat kesal, ini kedua kalinya Markus memperlakukan Hardian secara gampangan seperti 'orang-orang panggilan'. Markus benar-benar orang yang perhitungan, dia tidak mau rugi sedikit pun dan memilih menarik banyak keuntungan.

“Sudahlah, Pak. Kalau gitu mending saya pulang, bapak maunya begituan doang—ahh!” Hardian yang akan berbalik keluar menuju pintu tertahan karena Markus segara menarik tangannya, membawa Hardian masuk dan menghempaskan tubuh mahasiswa-nya itu ke sofa lebarnya.

“Jangan mempermainkan hormon saya, Hardian.” peringat Markus yang kesal karena miliknya di bawah sana sudah terguncang melawan gravitasi.

Hardian memekik saat Markus dengan paksa melepas jeans lalu boxernya. Tubuh bawah Haechan terpampang di hadapan Markus yang sudah kelaparan.

Markus mengikat kedua tangan Hardian dengan dasinya yang terletak di meja.

“Pak, sakit!” pekik Hardian saat Markus mengikat tangan itu begitu erat.

Markus tetap diam saat Hardian berteriak minta dilepas. Dia membuka lebar kaki Hardian sehingga terpampang lobang surga pemuda itu. Melakukan foreplay ringan yang mana hal itu membuat Hardian mengeluarkan umpatan karena rasa sakit.

“JANCOKKK—AKHH S-SAKITT~ UHHH!” Markus sebenarnya tidak mempermasalahkan itu malahan terdengar sexy baginya.

“Language, dek” nasihat Markus dengan tawanya.

'Salah sendiri punya lubang yang masih ketat, sakit kan?' batin Markus, awalnya dia mau bilang seperti itu langsung kepada Hardian tapi dia yakin akan mendapat tendangan di wajah seperti kemarin.

“Uhhh ahhh sakit hiks pelan-pelan~” Lirih Hardian saat kepala penis Markus tepat di depan lubangnya izin untuk masuk.

“CEPAT—AHH PLEASE PAK JANGAN AHH~ MAIN-MAIN IHHH~ UHHH~ BANGSATTT—HMMM!”

Bibir Hardian pun di bungkam oleh Markus yang gemas dengan lantunan kata-kata tak biasa dikeluarkan oleh seorang mahasiswa panutan seperti Hardian. Tapi jujur, Markus makin bergairah melihat Hardian yang begitu aktif berteriak karenanya.

“Hm— pak uhhh faster~!” Pinta Hardian di sela-sela lumatan. Markus tak langsung menurut dia menarik diri dari Hardian, yang mana membuat Hardian frustasi karena lubangnya yang gatal ingin dimasuki.

“Pak? Kok berhenti?!” Desak Hardian.

Markus menaikkan alisnya, “Terus?” padahal dia menahan tawa melihat Hardian yang dipengaruhi hormon frustasi karena tidak dipenuhi.

“Y-ya, bapak aja belum keluarin 'itu', lah saya udah! Ayo dong pak lagi masa saya sendiri!”

Hardian. Sudah. Benar-benar. Gila.

Markus sudah tak sanggup menahan tawanya. Dia mendekat memeluk Hardian dan mencium sekilas bibir manis.

“Okay, tapi jangan salahin saya kalo saya gak bisa berhenti ya dek?”

Haechan mengangguk, “Terserah bapak!”

Markus pun mulai melanjutkan permainannya yang sempat terhenti. Mereka bahkan mencoba banyak posisi hingga Hardian yang sudah berada di puncak stres-nya kelelahan dan jatuh dalam pelukan Markus.

Markus membawa Hardian ke kamarnya, meletakkan tubuh telanjang itu dan menyelimutinya. Mengulas senyum, Markus benar-benar jatuh dalam pesona dari mahasiswa-nya itu. Sampai-sampai Markus lupa untuk tidak mengeluarkannya di dalam.

“Cantik banget sih kamu dek, maaf ya saya nggak sengaja keluarin di dalam, hehe.” Markus pun mencuri kecupan singkat di bibir manis Hardian. Lalu bangkit menuju ranjang sebelah dan ikut tidur sambil memeluk pinggang Hardian.

🔞harap menjauh jika anda homophobic dan dibawah umur!🔞

Hardian segera menuruni ojek online yang dia pesan. Membayarnya secara cashless melalui aplikasi, lalu membawa tasnya yang penuh akan isi masuk ke daerah apartemen mahal di sudut kota.

Dia menaiki lift bersama beberapa orang hendak menuju ke lantai atas. Begitu sampai di lantai 10, Hardian turun sendiri lalu berjalan ke kompartemen 2 tepatnya apart No 2.

Hardian sedikit ragu, dia takut dengan apa yang terjadi nantinya. Tapi mengingat keuangan keluarganya yang memburuk, membuat pemuda itu pasrah.

Dia menekan bel dan tak lama pria dewasa dengan wajah menawan membuka pintu apart hanya dengan bathrobe dan segelas anggur di tangannya.

“Dek Hardi, silahkan masuk.” Pria itu membuka pintunya lebar membiarkan Hardian masuk.

Dia masih menunduk menahan rona merah wajahnya melihat keadaan rektor muda kampusnya itu.

“Mau minum dulu dek?” tanyanya dengan tangan yang merangkul bahu Hardian dan nafasnya yang terhembus di area leher Hardian.

“A-anu nggak pak, makasih. Saya mau langsung saja bertemu sama pihak cabang bank-nya kalau boleh, hehe...” Balas Hardian masih berusaha sopan meskipun kalimatnya sedikit memaksa dengan posisinya yang hanya seorang mahasiswa dibandingkan Markus.

Markus— pria dewasa itu tampak gemas, menggigit sensual daun telinga kanan Hardian yang membuat Hardian bukan main merinding. Tangan Hardian mencoba mencegah itu dengan menjauhkan dirinya tapi sedih sekali, Hardian sudah cukup kelelahan hari ini karena jadwalnya yang sibuk jadi perlawanannya tak maksimal sehingga Markus mendominasi pergerakan.

Tangan Markus yang kekar membawa tas Hardian lepas dari punggungnya setelah itu dia menahan kedua tangan Hardian dan mencengkram keduanya dengan kuat agar tak mengganggunya untuk melumat bibir Hardian lebih dalam.

Hardian merasa ingin gila, apalagi saat tangan Markus mulai masuk ke kemejanya dan makin gila saat puting dadanya disentuh tanpa izin oleh tangan nakal itu.

“P-pak—hmm~!” Hardian berusaha menginterupsi jari-jemari Markus yang bermain di dadanya tapi sayang mulutnya dibungkam oleh lumatan Markus yang menjadi-jadi. Lidahnya memaksa masuk ke dalam mulut Hardian hingga dia dapat mengobservasi lebih dalam.

Saliva Hardian dan Markus bersatu, Markus merasakan bibir Hardian begitu memabukkan. Dia bahkan menggigit bibir bawahnya Hardian hingga terluka kecil agar mulut Hardian tetap terbuka.

“P-pak—stop!” pekik Hardian begitu mendapat jeda bernafas.

Markus menatap Hardian tajam, dia menghentikan segala aksinya dan melepaskan cengkaraman di tangan yang menahan tangan Hardian.

Hardian tak sanggup menatap Markus, dia menunduk dengan tangannya menutup mulutnya.

“B-bapak berjanji mau mempertemukan saya sama pihak bank biar uang saya cair d-dan juga bapak gak paham sama i-itu harusnya bapak ini—”

“Hm, sudah selesai ngomong dek?” Potong Markus dengan tangan yang menyilang di depan dadanya.

Hardian mengulum bibirnya, dia sendiri bingung dan pusing dalam satu keadaan karena tidak tau apa yang harus dia lakukan.

“Pak, s-saya—”

“Menemui pihak cabang juga pasti butuh biaya bukan? Seenggaknya anggap aja kamu ini lagi bayar biaya admin ke saya, paham?”

'ANJING ENAK AJE LU!' Umpat Hardian dalam batin.

Hardian sangat kesal, ini kedua kalinya Markus memperlakukan Hardian secara gampangan seperti 'orang-orang panggilan'. Markus benar-benar orang yang perhitungan, dia tidak mau rugi sedikit pun dan memilih menarik banyak keuntungan.

“Sudahlah, Pak. Kalau gitu mending saya pulang, bapak maunya begituan doang—ahh!” Hardian yang akan berbalik keluar menuju pintu tertahan karena Markus segara menarik tangannya, membawa Hardian masuk dan menghempaskan tubuh mahasiswa-nya itu ke sofa lebarnya.

“Jangan mempermainkan hormon saya, Hardian.” peringat Markus yang kesal karena miliknya di bawah sana sudah terguncang melawan gravitasi.

Hardian memekik saat Markus dengan paksa melepas jeans lalu boxernya. Tubuh bawah Haechan terpampang di hadapan Markus yang sudah kelaparan.

Markus mengikat kedua tangan Hardian dengan dasinya yang terletak di meja.

“Pak, sakit!” pekik Hardian saat Markus mengikat tangan itu begitu erat.

Markus tetap diam saat Hardian berteriak minta dilepas. Dia membuka lebar kaki Hardian sehingga terpampang lobang surga pemuda itu. Melakukan foreplay ringan yang mana hal itu membuat Hardian mengeluarkan umpatan karena rasa sakit.

“JANCOKKK—AKHH S-SAKITT~ UHHH!” Markus sebenarnya tidak mempermasalahkan itu malahan terdengar sexy baginya.

“Language, dek” nasihat Markus dengan tawanya.

'Salah sendiri punya lubang yang masih ketat, sakit kan?' batin Markus, awalnya dia mau bilang seperti itu langsung kepada Hardian tapi dia yakin akan mendapat tendangan di wajah seperti kemarin.

“Uhhh ahhh sakit hiks pelan-pelan~” Lirih Hardian saat kepala penis Markus tepat di depan lubangnya izin untuk masuk.

“CEPAT—AHH PLEASE PAK JANGAN AHH~ MAIN-MAIN IHHH~ UHHH~ BANGSATTT—HMMM!”

Bibir Hardian pun di bungkam oleh Markus yang gemas dengan lantunan kata-kata tak biasa dikeluarkan oleh seorang mahasiswa panutan seperti Hardian. Tapi jujur, Markus makin bergairah melihat Hardian yang begitu aktif berteriak karenanya.

“Hm— pak uhhh faster~!” Pinta Hardian di sela-sela lumatan. Markus tak langsung menurut dia menarik diri dari Hardian, yang mana membuat Hardian frustasi karena lubangnya yang gatal ingin dimasuki.

“Pak? Kok berhenti?!” Desak Hardian.

Markus menaikkan alisnya, “Terus?” padahal dia menahan tawa melihat Hardian yang dipengaruhi hormon frustasi karena tidak dipenuhi.

“Y-ya, bapak aja belum keluarin 'itu', lah saya udah! Ayo dong pak lagi masa saya sendiri!”

Hardian. Sudah. Benar-benar. Gila.

Markus sudah tak sanggup menahan tawanya. Dia mendekat memeluk Hardian dan mencium sekilas bibir manis.

“Okay, tapi jangan salahin saya kalo saya gak bisa berhenti ya dek?”

Haechan mengangguk, “Terserah bapak!”

Markus pun mulai melanjutkan permainannya yang sempat terhenti. Mereka bahkan mencoba banyak posisi hingga Hardian yang sudah berada di puncak stres-nya kelelahan dan jatuh dalam pelukan Markus.

Markus membawa Hardian ke kamarnya, meletakkan tubuh telanjang itu dan menyelimutinya. Mengulas senyum, Markus benar-benar jatuh dalam pesona dari mahasiswa-nya itu. Sampai-sampai Markus lupa untuk tidak mengeluarkannya di dalam.

“Cantik banget sih kamu dek, maaf ya saya nggak sengaja keluarin di dalam, hehe.” Markus pun mencuri kecupan singkat di bibir manis Hardian. Lalu bangkit menuju ranjang sebelah dan ikut tidur sambil memeluk pinggang Hardian.

🔞harap menjauh jika anda homophobic dan dibawah umur!🔞

Hardian segera menuruni ojek online yang dia pesan. Membayarnya secara cashless melalui aplikasi, lalu membawa tasnya yang penuh akan isi masuk ke daerah apartemen mahal di sudut kota.

Dia menaiki lift bersama beberapa orang hendak menuju ke lantai atas. Begitu sampai di lantai 10, Hardian turun sendiri lalu berjalan ke kompartemen 2 tepatnya apart No 2.

Hardian sedikit ragu, dia takut dengan apa yang terjadi nantinya. Tapi mengingat keuangan keluarganya yang memburuk, membuat pemuda itu pasrah.

Dia menekan bel dan tak lama pria dewasa dengan wajah menawan membuka pintu apart hanya dengan bathrobe dan segelas anggur di tangannya.

“Dek Hardi, silahkan masuk.” Pria itu membuka pintunya lebar membiarkan Hardian masuk.

Dia masih menunduk menahan rona merah wajahnya melihat keadaan rektor muda kampusnya itu.

“Mau minum dulu dek?” tanyanya dengan tangan yang merangkul bahu Hardian dan nafasnya yang terhembus di area leher Hardian.

“A-anu nggak pak, makasih. Saya mau langsung saja bertemu sama pihak cabang bank-nya kalau boleh, hehe...” Balas Hardian masih berusaha sopan meskipun kalimatnya sedikit memaksa dengan posisinya yang hanya seorang mahasiswa dibandingkan Markus.

Markus— pria dewasa itu tampak gemas, menggigit sensual daun telinga kanan Hardian yang membuat Hardian bukan main merinding. Tangan Hardian mencoba mencegah itu dengan menjauhkan dirinya tapi sedih sekali, Hardian sudah cukup kelelahan hari ini karena jadwalnya yang sibuk jadi perlawanannya tak maksimal sehingga Markus mendominasi pergerakan.

Tangan Markus yang kekar membawa tas Hardian lepas dari punggungnya setelah itu dia menahan kedua tangan Hardian dan mencengkram keduanya dengan kuat agar tak mengganggunya untuk melumat bibir Hardian lebih dalam.

Hardian merasa ingin gila, apalagi saat tangan Markus mulai masuk ke kemejanya dan makin gila saat puting dadanya disentuh tanpa izin oleh tangan nakal itu.

“P-pak—hmm~!” Hardian berusaha menginterupsi jari-jemari Markus yang bermain di dadanya tapi sayang mulutnya dibungkam oleh lumatan Markus yang menjadi-jadi. Lidahnya memaksa masuk ke dalam mulut Hardian hingga dia dapat mengobservasi lebih dalam.

Saliva Hardian dan Markus bersatu, Markus merasakan bibir Hardian begitu memabukkan. Dia bahkan menggigit bibir bawahnya Hardian hingga terluka kecil agar mulut Hardian tetap terbuka.

“P-pak—stop!” pekik Hardian begitu mendapat jeda bernafas.

Markus menatap Hardian tajam, dia menghentikan segala aksinya dan melepaskan cengkaraman di tangan yang menahan tangan Hardian.

Hardian tak sanggup menatap Markus, dia menunduk dengan tangannya menutup mulutnya.

“B-bapak berjanji mau mempertemukan saya sama pihak bank biar uang saya cair d-dan juga bapak gak paham sama i-itu harusnya bapak ini—”

“Hm, sudah selesai ngomong dek?” Potong Markus dengan tangan yang menyilang di depan dadanya.

Hardian mengulum bibirnya, dia sendiri bingung dan pusing dalam satu keadaan karena tidak tau apa yang harus dia lakukan.

“Pak, s-saya—”

“Menemui pihak cabang juga pasti butuh biaya bukan? Seenggaknya anggap aja kamu ini lagi bayar biaya admin ke saya, paham?”

'ANJING ENAK AJE LU!' Umpat Hardian dalam batin.

Hardian sangat kesal, ini kedua kalinya Markus memperlakukan Hardian secara gampangan seperti 'orang-orang panggilan'. Markus benar-benar orang yang perhitungan, dia tidak mau rugi sedikit pun dan memilih menarik banyak keuntungan.

“Sudahlah, Pak. Kalau gitu mending saya pulang, bapak maunya begituan doang—ahh!” Hardian yang akan berbalik keluar menuju pintu tertahan karena Markus segara menarik tangannya, membawa Hardian masuk dan menghempaskan tubuh mahasiswa-nya itu ke sofa lebarnya.

“Jangan mempermainkan hormon saya, Hardian.” peringat Markus yang kesal karena miliknya di bawah sana sudah terguncang melawan gravitasi.

Hardian memekik saat Markus dengan paksa melepas jeans lalu boxernya. Tubuh bawah Haechan terpampang di hadapan Markus yang sudah kelaparan.

Markus mengikat kedua tangan Hardian dengan dasinya yang terletak di meja.

“Pak, sakit!” pekik Hardian saat Markus mengikat tangan itu begitu erat.

Markus tetap diam saat Hardian berteriak minta dilepas. Dia membuka lebar kaki Hardian sehingga terpampang lobang surga pemuda itu. Melakukan foreplay ringan yang mana hal itu membuat Hardian mengeluarkan umpatan karena rasa sakit.

“JANCOKKK—AKHH S-SAKITT~ UHHH!” Markus sebenarnya tidak mempermasalahkan itu malahan terdengar sexy baginya.

“Language, dek” nasihat Markus dengan tawanya.

'Salah sendiri punya lubang yang masih ketat, sakit kan?' batin Markus, awalnya dia mau bilang seperti itu langsung kepada Hardian tapi dia yakin akan mendapat tendangan di wajah seperti kemarin.

“Uhhh ahhh sakit hiks pelan-pelan~” Lirih Hardian saat kepala penis Markus tepat di depan lubangnya izin untuk masuk.

“CEPAT—AHH PLEASE PAK JANGAN AHH~ MAIN-MAIN IHHH~ UHHH~ BANGSATTT—HMMM!”

Bibir Hardian pun di bungkam oleh Markus yang gemas dengan lantunan kata-kata tak biasa dikeluarkan oleh seorang mahasiswa panutan seperti Hardian. Tapi jujur, Markus makin bergairah melihat Hardian yang begitu aktif berteriak karenanya.

“Hm— pak uhhh faster~!” Pinta Hardian di sela-sela lumatan. Markus tak langsung menurut dia menarik diri dari Hardian, yang mana membuat Hardian frustasi karena lubangnya yang gatal ingin dimasuki.

“Pak? Kok berhenti?!” Desak Hardian.

Markus menaikkan alisnya, “Terus?” padahal dia menahan tawa melihat Hardian yang dipengaruhi hormon frustasi karena tidak dipenuhi.

“Y-ya, bapak aja belum keluarin 'itu', lah saya udah! Ayo dong pak lagi masa saya sendiri!”

Hardian. Sudah. Benar-benar. Gila.

Markus sudah tak sanggup menahan tawanya. Dia mendekat memeluk Hardian dan mencium sekilas bibir manis.

“Okay, tapi jangan salahin saya kalo saya gak bisa berhenti ya dek?”

Haechan mengangguk, “Terserah bapak!”

Markus pun mulai melanjutkan permainannya yang sempat terhenti. Mereka bahkan mencoba banyak posisi hingga Hardian yang sudah berada di puncak stres-nya kelelahan dan jatuh dalam pelukan Markus.

Markus membawa Hardian ke kamarnya, meletakkan tubuh telanjang itu dan menyelimutinya. Mengulas senyum, Markus benar-benar jatuh dalam pesona dari mahasiswa-nya itu. Sampai-sampai Markus lupa untuk tidak mengeluarkannya di dalam.

“Cantik banget sih kamu dek, maaf ya saya nggak sengaja keluarin di dalam, hehe.” Markus pun mencuri kecupan singkat di bibir manis Hardian. Lalu bangkit menuju ranjang sebelah dan ikut tidur sambil memeluk pinggang Hardian.